Al Kautsar, Syukur Spiritual Dan Sosial
Oleh. Abdullathief Ab.
(Pengasuh Pondok Baitul Hamdi)
REAKSINEWS.COM || Secara khusus Nabi Muhammad.SAW, disebut oleh Allah sebagai penerima ‘Al-Kautsar’, orang yang diberi banyak kebaikan, alkhair alkatsir.
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus” ( QS. al Kautsar [108]:1-3).
Beliau diberi kenabian yang agung, risalah yang sempurna, pengikut yang banyak, namanya disebut setiap saat dengan penuh penghormatan. Beliau diberi hak sebagai pemberi syafaat udzma di yaumil jaza, pemilik telaga al-kautsar yang kenikmatan dan kesegerannya tidak pernah dirasakan sebelumnya, kelak umatnya dipersilahkan untuk meminumnya. Juga memiliki anak dan cucu yang mulia dan dimuliakan. Rasulullah dan tentu pengikutnya memiliki banyak potensi dan punya masa depan yang cerah, demikian menurut para mufasir dimaksud makna al-Kautsar. (Tafsitr almunir, AlZuhaily, Juz 15:827)
Demikian sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Ad Duha, “Dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu dari yang permulaan. Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau merasa puas.” (Q.S. Adh-Dhuha:4-5)
Secara umum al Kautsar, nikmat yang banyak itu telah diterima oleh kita sebagi umatnya. Nikmat usia, kesehatan, rizki, anak istri dan keturunan, harta kekayaan juga kesenangan. Dan yang lebih utama lagi adalah kita telah diberi nikmat iman dan islam. Karena kedua nikmat itu akan menyelamatkan kita di dunia dan kelak di hari kemudian.
Jika direnungkan, dalam satu hal saja yang ada pada diri kita banyak nikmat yang tak terhitung telah kita rasakan. Lidah misalnya, berapa banyak aneka rasa makanan yang kita nikmati, dengannya kita mampu komunikasi dengan ragam manusia. “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. Annahal ayat:18)
Semua nikmat yang diterima itu bukan untuk kesombongan, keangkuhan dan kejahatan tapi disyukuri untuk digunakan beribadah kepada Allah Swt, Dzat yang telah memberi berbagai nikmat tersebut. Diantara bentuk syukur nikmat itu adalah mendirikan shalat wajib maupun sunah sebagai bentuk syukur berdimensi spiritual (hablum minallah) dan menyembelih hewan qurban untuk dimakan bersama sebagai bentuk syukur berdimensi sosial (hablum minannas). ” Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah ” (QS. Al Kautsar: 2).
Dengan shalat seorang muslim membuktikan dirinya sebagai hamba yang lemah, yang butuh kepada Allah SWT, Zat yang telah menciptakannya, mengatur dan memeliharanya, menghidupkan dan mematikanya.
“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadahku (sembelihanku), hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (Q.S. Al An’am: 162-163)
Dengan ruku dan sujud seorang hamba menunjukkan rasya syukur kepada Allah SWT, atas segala nikmat yang telah diterimanya. Ulama fikih memasukan shalat syukur sebagai bagian dari shalat-shalat nafilah (AlJami’ Fi Ahkamish Shalat, Mahmud Abdulathif Al Uwaidhah, Jilid 1: 390), berdasar hadist “bila Nabi mendapati sesuatu yang menggembirakannya maka beliau tersungkur sujud sebagi rasa syukur kepada Allah SWT” (HR.Ibnu Majah). “Bahwasanya Rasullullah SAW shalat dua rakaat ketika beliau mendapat kabar kemenangan (dalam perang Badar) dan diberi kabar terbunuhnya Abu Jahal” (HR. AL Bazzar).
Demikian juga Ibadah qurban, merupakan ungkapan syukur hamba atas nikmat yang diterimanya dari Allah SWT, dengan bentuk ‘persembahan’ berupa sembelihan hewan ternak. Hanya saja persembahan sembelihan ini diniatkan kepada Allah semata, Rabb semesta alam, bukan kepada makhluk baik yang gaib maupun yang fiktif. Lebih dari itu daging hewan tersebut dibagikan dan dimakan bersama oleh manusia sebagai bentuk sosial. “Maka makanlah sebagiannya dan berilah makan pada orang yang merasa cukup dengan apa yang ada padanya (tidak meminta-minta) dan pada orang yang meminta-minta. Demikianlah kami tundukkan (unta-unta itu) untukmu agar kamu bersyukur”. (QS Al-Hajj [22] : 36).
Allah sama sekali tidak butuh apapun dari sembelihan itu. Tapi yang dinilai oleh Allah adalah ketundukan dan keikhlasan atas perintahNya. “Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu” (QS Al-Hajj [22] : 37).











































