Oleh : Ust. Lathief Abdallah Ab Pengasuh Pondok Baitul Hamdi
ReaksiNews.com || Senantiasa diingatkan oleh Al-Qur’an agar tidak terjebak rayuan setan, sang penggoda menuju jalan kesesatan. “Hai orang-orang yang beriman Janganlah mengikuti langkah-langkah setan, sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (Q.S. Al-Baqarah: 208)
Setan yang bernenek moyang iblis itu memiliki misi menyesatkan manusia dari jalan yang lurus. “Iblis berkata, Karena Engkau telah menghukumku tersesat, aku benar- benar akan menghalang-halangi mereka (Bani Adam) dari jalan-Mu yang lurus.“ (Q.S. Al-A’raf: 16).
Berdasar informasi dari Qur’an dan hadits ada enam misi setan dalam menyesatkan manausia; Pertama. Menjerumuskan kepada kekufuran. Target ini adalah misi utama kerja setan, agar Bani Adam keluar dari hidayah Allah dan bergabung bersama setan dalam kesesatan dan kekaburan. “(Bujukan orang munafik itu) seperti bujukan setan ketika ia berkata kepada manusia, ‘Kafirlah kamu’. Maka tatkala manusia telah kafir, ia berkata, ‘Aku berlepas tangan dari perbuatanmu, sesungguhnya aku takut kepada Allah Tuhan semesta alam.’ Maka kesudahan dari keduanya, bahwa keduanya masuk ke dalam neraka jahanam, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang zalim.” (Q.S. Al-Hasyr: 16-17)
Untuk memuluskan misinya, setan bekerja siang dan malam menggoda manusia (Q.S. Al-Baqarah (2): 257). Bahkan berani sesumbar karena upayanya itu mayoritas Bani Adam akan kafir kepada Allah Swt. (Q.S. Al-A’raf (7): 17). Secara kuantitatif, setan berhasil dalam proyek besarnya itu. Dari jumlah 7 miliar penduduk manusia di bumi saat ini, hanya 1,5 miliar yang memeluk Agama Islam.
Kedua. Mendorong berbuat bid’ah. Sebagai sumber Islam, Qur’an telah turun sempurna, hadits telah tersusun lengkap. Karenanya Islam tidak butuh penambahan atau pengurangan. Jika ada permasalahan baru yang muncul, Islam telah berikan mekanisme ijtihad.
Bid’ah itu mengada-ngada dalam syari’ah Islam, menjadikan Islam sebagai legalitas, pembungkus agar seolah-olah bagian dari Islam, padahal bukan darinya bahkan bertentangan dengannya. Oleh karenanya setan menjadikan bid’ah sebagai target kerjanya. Karena dengan tersebarnya bid’ah, tersebar pula kerusakan, bahkan kekufuran di tengah masyarakat. “Katakanlah, ‘Apakah kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia. Mereka mengira bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (Q.S. Al-Kahfi: 103-104)
Menurut para ulama menyadarkan orang dari berbuat maksiat lebih mudah dari yang berbuat bid’ah, karena ahli bid’ah itu merasa dalam kebenaran. Bid’ah yang paling berbahaya itu kaitan dengan aqidah. Semisal keyakinan bahwa semua agama adalah benar, natalan bersama, shalawatan di gereja, dll. bahkan dapat mengeluarkan seseorang muslim dari keyakinannya.
Ketiga. Mengajak berbuat dosa besar. Setan berusaha membujuk rayu agar manusia terjebak dengan dosa-dosa besar. Dosa yang menyebabkan kerusakan di masyarakat dan pelakunya mendapat ancaman sanksi di dunia dan adzab di akhirat. Satu dosa besar yang dilakukan dapat menelurkan dosa-dosa berikutnya. Minum khamr dapat memicu perkelahian, pelecehan, dan pembunuhan. Aborsi, pembuangan bayi tak berdosa adalah awal dari dosa Perzinaan.
Oleh karenanya setan selalu memotivasi manusia untuk melakukan dosa besar. Terlebih banyak momen hura-hura yang dibudayakan oleh manusia saat ini. Malam tahun baru, valentine day, dll. menjadi sarana perbuatan dosa-dosa besar. Selalu ada berita berserakannya bekas kondom dan botol minuman keras menjadi bagian dari sampah sehabis acara tersebut.“Wahai orang-orang beriman janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu menyerumu kepada kejahatan dan kemungkaran.” (Q.S. An-Nur: 21)
Keempat. Meremehkan dosa-dosa kecil. Jika dosa besar disebutkan ancamannya baik di dunia berupa hudud dan jinayat, juga di akhirat berupa siksa neraka. Mayorita orang menilai perbuatan seperti zina, judi, membunuh adalah perbuatan dosa. Sementara pelanggaran syari’at yang tidak disebutkan sanksinya, seakan tidak menganggapnya sebagai perbuatan dosa. Melihat aurat misalnya, seakan tidak dosa, bahkan sebagian orang memandangnya sebagi cuci mata. Rasulullah saw. bersabda, “Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, dia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Wahai Aisyah, hindarilah olehmu amal-amal yang remeh (dan dalam satu lafazh disebutkan dosa-dosa). Karena ada yang akan menuntut dari Allah terhadap amal-amal itu.” (H.R. Ad-Darami)
Bila tidak berhasil merayu untuk kufur, berbuat bid’ah dan melakukan dosa besar, setan mengajak manusia untuk meremehkan dan membiasakan dosa-dosa yang dianggap kecil. Padahal menurut hadits Nabi, dosa kecil itu bila terus menerus dilakukan akan menjadi dosa besar (HR. Ahmad). “Karena itu hendaklah seorang mukmin bila melihat dosa bagaikan ia duduk dibawah gunung yang ia khawatirkan gunung itu akan menimpanya. Sementara orang fasiq melihat dosa bagaikan melihat lalat yang singgah di atas hidungnya, ia meremehkannya” (H.R. Bukhari)
Kelima. Dilalaikan oleh perbuatan mubah atau sesuatu yang tak berguna. Mungkin setan tidak berhasil menjerumuskan manusia ke dalam lumpur dosa. Tapi cukup berhasil melalaikan manusia dengan sesuatu yang mubah, yang tak bernilai dan tak berfaidah. Bahkan hal yang dapat mengabaikan kewajiban atau mengantarkan pada yang haram. Olahraga misalnya, adalah suatu hal yang mubah bahkan di anjurkan. Namun, kadang menjadi ajang buka aurat dan menampilkan kemolekan tubuh, campur baur (ikhtilat) laki-laki dan perempuan. Media televisi, media sosial sering melalaikan kewajiban. Tidak ikut berjamaah shalat, lupa jadwal pengajian hanya gara-gara nonton acara televisi. bahkan karena media sosial muncul fitnah (hoax), perselingkuhan, dll. Ada orang yang bisa beli rokok dua bungkus sehari, tapi tidak biasa berinfak walau sejum’at sekali. Rasulullah saw. bersabda, “Di antara baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak berguna.“ (H.R. Tirmidzi)
Keenam. Disibukkan dengan amal yang utama tetapi meninggalkan yang lebih utama. Ada sebahagian orang yang rajin shalat sunnah, tapi tidak suka shalat wajib berjamaah. Sering berziarah ke makam-makam auliya, tapi tidak rajin duduk mendengar tausiyah ulama. Rajin memberi sumbangan kepada orang lain, tapi pelit terhadap keluarganya. Termasuk orang yang rajin beri’tikaf, berdzikir dan bershalawat, tapi tidak peduli dengan permasalahan umat. Sebagian sibuk berdebat soal hukum darah seekor nyamuk, tapi tidak mempermasalahkan tertumpahnya darah umat di Rohingya, saudaranya di Palestina. Getol mengungkap khilafiyah lalu menuduh kelompok lain sabagai ahlul bid’ah, tapi membahas khilafah pemersatu umat dianggap salah kaprah.
Dalam hadits disebutkan,“Barang siapa yang pada pagi harinya hasrat dunianya lebih besar maka itu tidak ada apa-apanya di sisi Allah, dan barang siapa yang tidak takut kepada Allah maka itu tidak ada apa-apanya di sisi Allah, dan barang siapa yang tidak perhatian dengan urusan kaum muslimin semuanya maka dia bukan golongan mereka.”(HR. al-Hakim dan Al-Khathab)
Demikian enam misi setan perlu diketahui dan diwaspadai yang telah banyak menjerumuskan manusia ke dalamnya.











































