Oleh : Ust Lathief Abdallah
(Pengasuh Pondok Baitul Hamdi)
REAKSINEWS.COM || Ukhwah (persaudaraan) khususnya sesama muslim merupakan kewajiban syariat. Islah juga kewajiban yang sama, yaitu memperbaiki hubungan antara umat agar wihdah (persatuan) sanantiasa terjaga.
Ukhuwah, Ishlah dan wihdah adalah pesan penting dalam Qur’an dan Sunah untuk seluruh umat Islam.
“Sungguh kaum mukmin itu bersaudara. Karena itu damaikanlah saudara-saudara kalian dan bertakwalah kalian kepada Allah agar kalian mendapatkan rahmat.
(QS al-Hujurat ayat : 10)
Nabi SAW mengumpamakan persaudaraan muslim itu ‘kal bunyan’ bagaikan sebuah bangunan (HR. Bukhari). Satu material bangunan baik kecil atau besar saling menguatkan dan mengokohkan yang lainnya. ‘Kal jasadil wahid’, bagaikan satu anggota tubuh (HR Muslim). Satu bagian tubuh dengan bagian lainya saling membutuhkan, saling menunjang dan saling merasakan baik suka maupun duka.
Muhamad Bin Abdillah Aljardani dalam Kitab Al jawahir Alluluiyyah hal 354, menjelaskan “Persaudaraan berbasis keimanan (al ukhuwah addiniyah) posisinya jauh lebih tinggi daripada pesaudaraan berdasar keturunan (al ukhuwah annasabiyah). Karena persaudaraan atas dasar keimanan membawa konsekwensi kebersamaan abadi kelak di akhirat”
Dengan demikian kaum muslimin di manapun kendati beda suku dan bangsa, beda rupa dan bahasa adalah saudara. Muslim di Gaza Palestina adalah saudara, Muslim di Saudi Arabia adalah saudara, Muslim di Iran Persa, Mesir, Malaysia , indonesi dll adalah saudara.
“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, ia tidak boleh menzaliminya dan tidak boleh membiarkannya (dizalimi). Dan barangsiapa menolong kebutuhan saudaranya, maka Allah akan menolong kebutuhannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Saat ini kaum muslimin dalam kondisi krisis ukhwah, minus islah dan berakibat lemahnya wihdah. Di antara faktornya adalah buruknya pemahaman dalam beragama. Tidak mengerti mana ushul (pokok) mana furu'(cabang), mana yang ittifak (disepakati) mana yang ikhtilaf (perbedaan). Seakan semua harus sama dengan pemahamannya, dengan madzhbanya. Jika ada yang berbeda dianggap ‘laisa mina’, bukan golongannya, bukan ahlus sunnah, tapi ahlu bid’ah. Bahkan dianggap bukan dari Islam, sesat dan kafir.
Secara internasional, negeri negeri Islam dipecah belah dan diadu domba oleh kekuatan penjajah asing. Lihat saja, saat Iran diserang oleh oleh bangsa imperealis AS dan Israel, sebagian negeri-negeri Islam justru memfasilitasi serangan tersebut. Lihatlah, sungguh anomali, ironi dan menyedihkan, negara Saudi saling serang dengan negera Yaman yang penduduk keduanya sama-sama mengucapkan takbir dan shalat menghadap kiblat…
Tentu Israhel gembira ria karena kejahatan mereka tanpa perlawanan. Karena negara negara muslim berperang Sesama mereka.
Jikan saja moncong senjata mereka dan tentara-mereka diarahkan dan dikerahkan ke Israel penjajah Palestina, tentu sangat menggemberikan.
Wahai kaum muslimin di seluruh dunia … Faaslihu baina akhaikum, perbaikilah hubungan kalian, musuh kalian bukanlah sesama kalian, musuh kalian itu mereka yang mengadudomba kalian, mereka yang membantai saudara kalian, mereka yang merampas harta kekayaan negara kalian.
Kaum muslimin adalah umatan Wahidah, umat yang satu, Tuhan mereka Allah Yang Maha Satu, Kitab mereka satu, Nabi mereka satu, dan Kiblat mereka satu.
“Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya ayat 92)
Jika umat Islam, negeri negeri Islam bersatu maka bangsa muslim seperti di Gaza Palestina akan mudah diselamatkan. Lihatlah… Satu negeri Islam bernama Iran, dikeroyok oleh Amerika dan Israel, dua negara yang dianggap paling kuat di dunia, Namun Iran kokoh melawan secara militer maupun politik. Para pengamat menyatakan, realitanya Amerika – Israel mengalami kekalah telak. Jika saja seluruh negeri kaum muslimin bersatu padu bahu membahu, bersama Iran, tentu penjajah Amerika- Israel itu, kehancuran mereka akan lebih cepat.
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.”
(QS. Ali ‘Imran ayat 103)
Marilah pererat rasa ukhuwah, tali persaudaran sesama umat. Perekat upaya islah, perbaiki hubungan sesama umat, dan perkokoh wihdatul umah, persatuan umat. Hanya dengan itu umat akan selamat, kuat terhormat.




































