REAKSINEWS.COM || SUKABUMI – Kolaborasi penanganan sampah di perbatasan Kota Sukabumi dan Kabupaten Sukabumi merupakan upaya bersama antara Pemerintah Kota dan Kabupaten Sukabumi untuk mengatasi penumpukan sampah di lokasi TPS (Tempat Pembuangan Sampah) yang berada di wilayah perbatasan kedua wilayah.
TPA Cikundul kritis kapasitas sudah overkapasitas, diperkirakan hanya bertahan 1–1,5 tahun lagi. Volume sampah meningkat pada Maret/Ramadan 2025 mencapai 190 ton per hari.
Sampah acum di perbatasan TPS di wilayah perbatasan menjadi titik penumpukan yang perlu penanganan serius.
Solusi yang dijalankan:
– Optimalisasi TPS3R (Reduce, Reuse, Recycle) dengan mesin kapasitas 5–6 ton/hari.– Bank Sampah — revitalisasi Bank Sampah Induk Kota Sukabumi
– RDF (Refused-Derived Fuel) — MoU Pemkot dengan PT Semen Jawa untuk pengolahan sampah menjadi bahan bakar fosil pengganti.![]()
– Sayembara konsep — 33 kelurahan ikut berlomba menghadirkan solusi penanganan sampah terbaik.
Wakil Wali Kota Bobby Maulana menegaskan bahwa penanganan sampah harus dimulai dari rumah tangga dan dilakukan melalui koordinasi lintas sektor dengan keterlibatan aktif masyarakat.
Tujuan & Dampak Lingkungan:
– Net-zero emission 2050 — bagian dari komitmen SCG Indonesia.
– Tidak perlu TPA baru — setelah RDF berjalan, pemerintah tidak perlu membangun TPA baru.
– Pengurangan sampah 30%, penanganan 70% target Pemda Sukabumi 2025.
Tantangan: Keterbatasan anggaran APBD, SCG diminta membuat DED (Detail Engineering Design). TPA Cikundul kritis diperkirakan hanya bertahan hingga akhir 2026.
Fasilitas RDF di Kabupaten Sukabumi sudah beroperasi penuh sejak Agustus 2025 dan menjadi inspirasi bagi Kota Sukabumi untuk menerapkan sistem serupa.












































