REAKSINEWS.COM || Demikian pentingnya, dalam al Quran kata takwa disebut hingga 245 kali. Antara lain dalam firman Allah SWT, “Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa.” (QS. Ali-Imran[3]: 102).
Menurut Sayyidina Ali bin Abi Thlib yang dikutip dalam kitab Manhajus Sawi, taqwa mengandung empat subtansi;
Pertama. Alkhauf minal jalil, takut kepada Allah Yang Maha Mulia. Takut kepada Allah, menanamkan rasa bahwa Allah itu mutlak adanya, dimana gerak kita selalu terlihat oleh-Nya. Hidup dan mati ada dalam keputusan-Nya, segala sesuatu ada dalam gengaman-Nya. Takut akan siksa yang sangat pedih bagi yang ingkar kepada-Nya.
“Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (Q.S. An-Nuur: 52)
“Demi kemuliaan-Ku, Aku tidak akan mengumpulkan dua rasa takut dan dua rasa aman pada seorang hamba. Jika ia takut kepada-Ku di dunia, maka Aku akan memberinya rasa aman di akhirat. Dan jika ia merasa aman dari-Ku di dunia, maka Aku akan memberinya rasa takut di akhirat.” (HR.Ibnu Hiban)
Kedua. Al’amal bit tanzil, mengamalkan Al-Qur’an. Siapapun akan tunduk kepada yang ditakuti. Bukti ketundukan kepada Allah adalah mengamalkan segala aturan-Nya yang termaktub dalam Al-Qur`an. “Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (Q.S. Al-Isra: 9). Mereka yang membantah syari’at-Nya, memilah milih sesuai selera, menyeleweng dari garis-Nya, dikeluarkan dari sifat takwa, yakni kafir, zalim dan fasik (Q.S. Al-Ma’idah: 44. 45 47.)
Ketiga. Alisti’dad liyaumir rahil, mempersiapkan untuk hari akhir. Perjalanan hidup di dunia hanya sementara. Manusia dibatasi oleh ajal, alam dibatasi oleh kiamat. Perjalanan yang tiada batas adalah kehidupan di akhirat. Oleh karenanya mempersiapkan bekal untuk perjalanan terakhir itu bagian dari hakikat takwa. “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (Q.S. Al-Qashshash: 77)
Nabi Saw. bersabda,“Orang yang cerdas adalah orang yang dapat menundukkan hawa nafsu dan beramal untuk bekal sesudah mati. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah dengan panjang angan-angan.” (H.R. Tirmidzi)
Keempat. Alqana’atu bil qalil, qana’ah atas bagian yang sedikit. Kadang yang kita terima tidak sesuai rencana, yang dihasilkan tidak selurus dengan yang diinginkan. Orang bertakwa ridha terhadap bagian takdir yang diterimanya sesuatu yang dipandang sedikit atau kurang di sisi manusia. Inilah yang disebut Qana’ah. “Sungguh beruntung orang yang diberi petunjuk dalam Islam, diberi rezeki yang cukup, dan qana’ah (merasa cukup) dengan rezeki tersebut.” (H.R. Ibnu Majah)












































