REAKSINEWS.COM || Mendorong terwujudnya Sustainabel Development Goals (SDG’s) merupakan cita-cita internasional dalam setiap negara, salah satu tujuan dari SDG’s ialah mengkampanyekan Green Economy. (Ekonomi Hijau). Dalam mencapai Green Economy membutuhkan partisipasi kepada seluruh masyarakat.
Gender quality (kesetaraan gender) sangat penting untuk menciptakan kesetaraan bagi perempuan dalam Green Economy. Melalui GGEI (Global Green Economy Index) akan menilai kinerja setiap negara yang berpartisipasi dalam mendorong SDG’s.
Partisipasi perempuan juga menjadi sebuah sorotan dalam menciptakan pembangunan berkelanjutan. Laki-laki maupun perempuan diharapkan dapat presentasi partisipasi yang sama dalam Green economic.
Namun, pengaruh Green economic tak akan berkelanjutan secara kompleks apabila gender quality belum tercapai, sehingga keduanya saling mempengaruhi dalam implementasinya di masyarakat. Keduanya juga bagian dari cita-cita SDG’s itu sendiri. Secara ekonomi, perempuan lebih rentan dirugikan karena stigma gender yang melekat, budaya patriarki secara umum sangat mempengaruhi stabilitas ekonomi perempuan. Selain itu, perempuan juga rentan terhadap kondisi lingkungan hidup yang menurun.
Perempuan adalah agen perubahan. Perempuan berpotensi besar menjadikan perekonomian suatu negara menjadi ramah akan lingkungan, karena ia terlibat dalam semua tingkatan ekonomi melalui konsumsi dengan perannya yang ganda.
Dari jutaan ton sampah didominasi dengan sampah plastik, makanan dan minuman menunjukkan sampah terhimpun berasal dari rumah tangga. Ibu sebagai madrasah pertama untuk anak-anaknya dapat berperan membiasakan anggota keluarga melaksanakan kemanfaatan lingkungan rumah, seperti memilah sampah basah dan kering dan sebagainya. Ibu adalah orang yang paling aktif menanam dan menjaga bunga atau sayuran di pekarangan rumah, selain daripada itu merupakan gerakan penghijauan juga dapat melahirkan kebermanfaatan kebutuhan makanan secara ekonomi.
Perubahan iklim menjadikan perempuan juga berpengaruh atas kehilangan pemasukan ekonominya. Korban bencana alam yang merembes kepada kebutuhan rumah tangga perempuan. Sehingga kerentanan itu menjadikan perempuan harus turut andil dan patut dipertimbangkan dalam kelihatannya pada Green Economic. Ada tiga hal yang harus pemerintah prioritaskan dalam pembangunan Green economic yang berkelanjutan yakni; Hutan, limbah dan energi. Perempuan memahami penggunaan limbah organik juga perempuan memiliki manajemen limbah dan penghematan energi.
Manfaat yang diperoleh dalam pengurustamaan menuju kesegeraan gender dalam ekonomi hijau ialah; Dapat memberdayakan perempuan dan anak dalam membantu perekonomian dalam pertumbuhan dan pembangunan, juga dapat meminalisir ketidaksetaraan sosial, ekonomi dan khususnya gender. Kemudian terakhir ialah mengurangi kesenjangan sosial dan menciptakan masyarakat lebih harmonis.
Pemulihan ekonomi hijau nasional akan berubah secara efektif apabila diperkuat dengan pendekatan pentahelix. Ada 5 jenis pemangku kepentingan yang mesti terlibat yaitu; para akademisi, pebisnis, pemerintahan, komunitas dan media. Tak luput perempuan dan laki-laki berperan keduanya. Ketika semua dapat disatukan tentu perubahan itu akan semakin maksimal kira jemput.
Sumber : Hana
Editor : Admin











































