_Oleh: Ust. Lathief Abdallah_
Ponpes Baitul Hamdi
REAKSINEWS.COM || Di bulan Rabiulawal, atau yang dikenal dengan Bulan Maulud, ramai masyarakat muslim di berbagai masjid dan lembaga merayakan kegembiraan atas dianugerahkannya kepada mereka seorang Rasul yang mulia yang lahir 15 abad yang lalu. Perayaan tersebut merupakan bentuk ekspresi rasa cinta kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, kendati kaum muslimin yang hadir saat ini tidak pernah berjumpa dengan beliau.
Sejatinya, mencintai Nabi Muhammad mesti melebihi segalanya. Itulah bukti orang yang mengaku beriman kepada beliau.
“Tidak sempurna keimanan seseorang di antara kalian hingga ia lebih mencintai aku daripada kedua orangtuanya, anaknya, dan manusia semuanya.” (HR Bukhari)
Dalam hadis riwayat Bukhari-Muslim dari Anas bin Malik:
Seorang lelaki datang kepada Nabi, “Ya Rasulullah, kapan terjadinya Kiamat?”
“Bekal apa yang engkau siapkan untuknya?” Nabi balik bertanya.
“Tidak ada, hanya saja aku sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya,” jawabnya.
Nabi SAW bersabda, “Engkau akan bersama dengan yang engkau cintai.” _Anta ma‘a man ahbabta_.
Anas bin Malik berkata, “Tidak ada perkataan yang paling membahagiakanku setelah masuk Islam selain perkataan Nabi, _anta ma‘a man ahbabta_, ‘engkau akan bersama dengan yang engkau cintai’. Aku mencintai Nabi, mencintai Abu Bakar, dan mencintai Umar. Dengan cinta itu aku berharap aku bersama mereka kelak, walau amalku tidak seperti amal mereka.”
Dalam hadis ini ditunjukkan keutamaan mencintai Nabi SAW agar kelak kita bisa bersama beliau, termasuk mencintai orang-orang yang saleh.
Lalu, apa bukti cinta kepada Nabi itu? Dalam Tafsir az-Zuhaili diceritakan: Tsauban merasa gelisah jika tidak bertemu dengan Nabi. Ia mencintai Nabi lebih dari keluarganya.
“Ya Rasulullah, aku khawatir kelak tidak bertemu denganmu lagi karena kedudukanmu yang tinggi, apalagi jika aku di neraka.”
Maka turunlah Al-Qur’an Surah An-Nisa ayat 69 yang menerangkan:
“Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul, maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh.”
Ini menunjukkan bahwa cinta kepada Nabi dibuktikan dengan ketaatan kepada beliau, bukan semata perkataan. Mencintai Nabi dan taat kepada beliau harus didasari oleh keimanan.
Pertemuan dengan Nabi di dunia bukanlah syarat untuk berjumpa dengan beliau kelak di surga. Kendati jauh dari Nabi, baik tempat maupun masa, jika beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta menaati keduanya, kelak di surga akan bersama Nabi, para sahabat, para syuhada, dan orang-orang yang saleh.
Bukankah Abu Jahal, Abu Lahab, dan Abu Talib ketiganya sering bertemu, bahkan di antara mereka ada pertalian nasab dengan Nabi? Namun ketiganya tidak akan pernah berjumpa bersama Nabi kelak di akhirat, karena mereka bertemu tetapi tidak beriman kepada Nabi.
Ditegaskan oleh Nabi SAW dalam sabdanya,
“Beruntunglah orang yang beriman kepadaku dan bertemu denganku.” — beliau menyebutnya sekali.
“Dan beruntunglah orang yang beriman kepadaku dan belum pernah bertemu denganku.” — beliau menyebutnya tujuh kali. (HR Ahmad)
Orang yang mencintai Nabi pasti akan memuliakannya dan akan membelanya. Mereka akan marah bila nabinya dinistakan, jika syariatnya dilecehkan. Mereka rela mengorbankan apa saja yang dimilikinya demi memuliakan nabinya.
“Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan bersamanya Al-Qur’an, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS Al-A‘raf: 157)
Seorang muslim mengingat Nabi, mencintainya, dan mengikutinya di seluruh relung kehidupannya. Ia akan selalu meneladani nabinya di setiap aktivitasnya. Mengenang perjalanan dan riwayat kehidupan Nabi di setiap saat. Bukan hanya di bulan Maulud!




































