REAKSINEWS.COM || SUKABUMI — Mimpi indah untuk mengubah nasib keluarga seketika berubah menjadi mimpi buruk yang meremukkan dada.
Di balik gemerlap dan megahnya Kota Riyadh, Arab Saudi, ada seorang ibu muda asal Kampung Limbangan Goalpara, Desa Limbangan, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi, yang kini hanya bisa terbaring lemah tak berdaya.
Niat tulus untuk mengais rezeki demi menyambung hidup keluarga kecilnya harus terhenti secara tragis. Fitri, Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang baru 8 bulan mengadu nasib di negeri orang, kini terkulai sakit, merintih dalam kesendirian, jauh dari pelukan hangat keluarga.
Air mata tak lagi bisa dibendung dari kelopak mata Indra, suami Fitri. Pria yang setia menanti kabar baik di tanah air itu kini hanya bisa mengelus dada sambil menatap foto sang istri dengan pandangan nanar. Hatinya hancur berkeping-keping saat mengetahui belahan jiwanya sedang bertaruh nyawa di negeri asing tanpa ada kepastian perawatan yang layak.
”Saya cuma ingin istri saya pulang dengan selamat… Tolong kami, Pak, Bu… Kondisinya sedang sakit parah di sana. Saya tidak butuh apa-apa lagi, saya hanya ingin dia kembali ke rumah ini,” tutur Indra dengan suara bergetar dan nafas tertahan, tak sanggup menahan rasa pilu yang menghimpit dadanya.
Sponsor Bungkam, Hati Keluarga Makin Teriris
Di tengah penderitaan yang begitu mendalam, derita keluarga ini kian bertambah ketika pihak yang seharusnya bertanggung jawab justru seolah lepas tangan. Titin, oknum sponsor asal Kampung Cibatu Cisaat yang memfasilitasi keberangkatan Fitri, mendadak “hilang telan bumi”.
Saat tim media bersama KDM (Kang Didin Muhidin) dari Tim Relawan SEKBER TPPO RI mencoba melakukan konfirmasi melalui pesan singkat maupun telepon WhatsApp, nomor sang sponsor tak kunjung memberikan respons. Sikap dingin dan aksi bungkam dari pihak sponsor di tengah kondisi PMI yang kritis ini ibarat menyiramkan cuka pada luka keluarga yang sedang menganga.
Bukannya memberikan solusi atau ulur bantuan, ketidakpedulian ini justru menambah panjang daftar kelam nasib para pejuang devisa asal Sukabumi yang terombang-ambing tanpa perlindungan di negeri orang.
Perjuangan Tanpa Lelah dan Harapan pada BP3MI
Indra tidak tinggal diam. Dengan sisa-sisa tenaga dan harapan, ia terus melangkah mencari keadilan. Didampingi langsung oleh Abel alias Bang Doel (Pembina SEKBER RELAWAN TPPO RI), Indra telah melayangkan laporan resmi ke BP3MI Bandung Jawa Barat. Namun, hari demi hari berlalu bagaikan abad; hingga detik ini belum ada kepastian konkret mengenai langkah evakuasi atau tindakan medis penanganan bagi istrinya.
Setiap detik yang berlalu adalah siksaan batin bagi Indra dan keluarga di Sukabumi. Mereka membayangkan betapa kesepiannya Fitri menahan rasa sakit di perantauan, tanpa ada jemari suami yang menggenggam tangannya atau bisikan doa langsung dari keluarga.
”Jangan biarkan pahlawan devisa kita berjuang sendirian dalam kesakitan! Kami memohon dengan sangat kepada BP3MI Jawa Barat, KP2MI, Kementerian Luar Negeri, KBRI di Riyadh, serta Aparat Penegak Hukum untuk segera turun tangan. Ketuklah hati nurani kita bersama,” tegas perwakilan Tim Relawan SEKBER TPPO RI dengan nada penuh penekanan.
Uluran Tangan dan Doa Pembaca Adalah Harapan Mereka
Kasus Fitri bukan sekadar angka dalam statistik pekerja migran. Ini adalah tentang seorang manusia, seorang istri, dan seorang anak bangsa yang membutuhkan pertolongan darurat.
Publik kini mengetuk pintu hati para pemangku kebijakan. Jangan tunggu hingga kata “terlambat” itu terdengar. Oknum-oknum sponsor yang diduga lepas tanggung jawab dan memanfaatkan kepolosan warga harus ditindak tegas secara hukum, sementara Fitri harus segera dievakuasi dan dipulangkan.
Mari kita rapatkan barisan, sebarkan warta ini, dan kirimkan doa terbaik agar riak kepedulian kita bersama dapat terdengar sampai ke istana negara dan kedutaan. Semoga Fitri segera mendapatkan perawatan medis terbaik dan bisa kembali pulang ke pelukan keluarga di Sukaraja, Sukabumi, dengan selamat.
TimRed




































