REAKSINEWS.COM || SUKABUMI – Panggung politik Kota Sukabumi mendadak membara. Nama Anggota DPRD dari Fraksi Gerindra, Ardi Wantoro, kini tengah berada di ujung tanduk setelah LSM Forum Warga Cibeureum (FORWACIB) melakukan aksi geruduk ke Gedung DPRD Kota Sukabumi pada Kamis (09/04/2026). Bukan sekadar aksi biasa, kedatangan massa ini membawa misi tunggal: Menguliti dugaan kebohongan publik yang diduga dilakukan oleh Ardi Wantoro terkait bisnis di balik program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Isu ini meledak menjadi bola api liar setelah FORWACIB mencium adanya aroma ketidakjujuran dalam pengelolaan dapur MBG yang melibatkan nama-nama besar di kursi legislatif.
Ardi Wantoro dalam Bidikan: Benarkah Ada Kebohongan Publik?
Fokus utama amarah FORWACIB tertuju pada pernyataan-pernyataan Ardi Wantoro di berbagai media massa beberapa waktu lalu. Ardi sebelumnya secara tegas membantah bahwa dirinya memiliki keterlibatan bisnis dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), termasuk kepemilikan pabrik roti yang menjadi pemasok utama.
”Kami datang ke sini untuk menagih kejujuran Ardi Wantoro. Beliau secara terbuka menyatakan kepada media bahwa dirinya tidak punya dapur MBG dan tidak punya pabrik roti. Tapi data dan informasi di lapangan yang kami himpun berbicara lain. Inilah yang kami sebut sebagai potensi kebohongan publik,” tegas Abu Jibril, Sekretaris FORWACIB dengan nada berapi-api.
Menurut FORWACIB, pernyataan Ardi yang melemparkan tanggung jawab kepemilikan pabrik roti kepada Ustadz Apep Saefulloh (Ketua DMI) dianggap sebagai langkah “cuci tangan” yang tidak elegan. Publik pun bertanya-tanya: Apakah benar Ardi hanya sekadar pengawas, atau justru ada peran “pemilik bayangan” di balik tirai kekuasaan?
Dapur MBG: Program Rakyat atau Bancakan Oknum?
Program Makan Bergizi Gratis merupakan program mercusuar Presiden terpilih, Prabowo Subianto. Namun, di tangan oknum di daerah, FORWACIB khawatir program mulia ini hanya dijadikan alat untuk memperkaya diri melalui skema vendor dan pengadaan.
Tudingan FORWACIB sangat spesifik. Mereka mempertanyakan mengapa kepemilikan dapur MBG SPPG terkesan tertutup dan diduga kuat dikuasai oleh jejaring yang berafiliasi dengan anggota dewan tertentu.
”Ardi Wantoro membawa-bawa nama partai, membawa-bawa nama Pak Prabowo untuk melegitimasi gerakannya dengan dalih pengawasan. Tapi kalau di balik itu dia ternyata ‘main’ proyek melalui tangan orang lain, ini adalah penghianatan terhadap mandat rakyat dan mandat partai itu sendiri!” seru salah satu simpatisan di depan gerbang DPRD.
Misteri Pabrik Roti dan “Klarifikasi” yang Meragukan
Dalam pembelaan sebelumnya, Ardi Wantoro mengaku bahwa ia hanya menjalankan kewajiban sebagai kader Gerindra untuk mengawasi semua dapur MBG demi kesuksesan program Prabowo. Ia membantah keras memiliki pabrik roti yang menyuplai dapur tersebut.
Namun, bagi FORWACIB, klaim tersebut tidak cukup. Kedatangan mereka ke DPRD hari ini sebenarnya bertujuan untuk mengonfrontasi Ardi secara langsung dalam forum audiensi resmi. Mereka menuntut Ardi menunjukkan bukti-bukti autentik, bukan sekadar kata-kata manis di depan kamera wartawan.
”Kalau memang bersih, kenapa harus takut audiensi? Kenapa harus menghindar?” tanya Abu Jibril retoris.
DPRD Kosong: Strategi Menghindar atau Kebetulan?
Kekecewaan massa FORWACIB memuncak saat mendapati Gedung DPRD Kota Sukabumi nampak seperti “rumah hantu”. Tak ada satu pun batang hidung anggota dewan, termasuk Ardi Wantoro yang menjadi sasaran tuntutan.
Ketua FORWACIB, Dadang Jhon, mengungkapkan bahwa berdasarkan informasi yang ia terima, para wakil rakyat tersebut sedang melakukan kunjungan kerja atau kegiatan di luar kota. Alasan klasik ini dianggap FORWACIB sebagai upaya sistematis untuk meredam isu yang sedang memanas.
”Kami sudah kirim surat sejak Senin (06/04/2026). Tapi mereka malah pergi ke luar kota di saat kami menagih penjelasan. Ini menunjukkan bahwa Ardi Wantoro dan rekan-rekan dewan lainnya tidak punya nyali untuk berhadapan dengan data rakyat,” pungkas Dadang Jhon.
Ultimatum FORWACIB: Seret ke Ranah Etik!
Karena gagal menemui Ardi Wantoro dan pimpinan DPRD lainnya, FORWACIB mengancam akan mengambil langkah yang lebih ekstrem. Mereka mempertimbangkan untuk melaporkan dugaan kebohongan publik ini ke Badan Kehormatan (BK) DPRD dan instansi terkait lainnya.
Bagi warga Cibeureum, masalah ini bukan sekadar urusan roti atau makanan, melainkan soal integritas seorang pejabat publik dalam mengelola program negara. Jika terbukti Ardi Wantoro memberikan keterangan palsu kepada publik demi menutupi keterlibatan bisnisnya, maka karier politiknya diprediksi akan tamat di tangan rakyat.
Analisis Tajam: Mengapa Ardi Wantoro Begitu Terdesak?
• Beban Nama Besar Partai: Sebagai kader Gerindra, gerak-gerik Ardi selalu dikaitkan langsung dengan citra Prabowo Subianto. Skandal di tingkat lokal bisa merusak reputasi partai secara nasional.
• Konflik Kepentingan: Jika benar Ardi memiliki atau mengelola dapur MBG melalui pihak ketiga, hal ini melanggar etika pejabat publik yang dilarang “bermain” dalam proyek yang mereka awasi sendiri.
• Tekanan Akar Rumput: LSM FORWACIB dikenal memiliki basis massa yang solid di Cibeureum. Serangan mereka yang konsisten menunjukkan bahwa ada data valid yang mereka pegang dan siap diledakkan kapan saja.
Kesimpulan Sementara:
Hingga detik ini, publik Sukabumi masih menunggu “panggung kedua” dari drama ini. Ardi Wantoro diharapkan segera muncul ke permukaan untuk memberikan klarifikasi yang sejujur-jujurnya sebelum kemarahan warga meluas menjadi aksi massa yang lebih besar.
Paul : Pinum Reaksinews.com











































