REAKSINEWS.COM || Khutbah Jum’at 26/12/24..7
Sabar Pada Empat Kondisi
Oleh. A.Lathief Abdallah**
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ
وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ .أَمَّا بَعْدُ،
فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْقَدِيْرِ الْقَائِلِ فِيْ كِتَابِهِ:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ.
Puji dan syukur bagi Allah Rabb semesta alam. Salawat dan salam teruntuk Rasulillah junjungan alam.
Dari mimbar khutbah ini, terlebih dahulu saya berwasiat kepada diri saya pribadi dan hadirin sekalian, marilah kita meneguhkan hati untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT yaitu melaksanakan perintah-perintahNya dan larangan-laranganNya.
Hadirin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah…
Tidak ada satupun manusia yang selama hidupnya selalu menemui apa yang diingini, senantiasa mendapatkan yang dicita-citakan. Perjalanan hidup manusia pasti berjumpa dengan suka dan duka, sedih dan bahagia. Maka sabar adalah sikap yang harus dimiliki setiap diri agar bisa menjalani hidup dengan baik dan meraih ridho ilahi.
Setiap manusia dalam hidupnya ada kalanya menemui sesuatu yang cocok dengan keinginannya, ada kalanya pula menemui hal-hal yang tak diinginkannya bahkan dibencinya. Dalam keadaan itu mengharuskan bersikap sabar. Karena itulah pahala sabar sangatlah besar
إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٖ
Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (az-Zumar: 10)
Sabar itu tabah mengahadapi kenyataan, kokoh dalam prinsip, tenang dalam sikap, maksimal dalam ikhtiar, tidak banyak ngeluh pada manusia, senantiasa mengadu pada Allah SWT.
Hadirin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah…
Dalam kitab Nashaihud Diniyyah hal 319 bab Al munjiyatul adzimah diterangkan bahwa sabar mesti ada pada empat kondisi; sabar saat melaksanakan taat, sabar ketika meninggalkan maksiat, sabar dalam mengendalikan syahwat dan sabar waktu menghadapi musibat (musibah).
Pertama, sabar dalam taat. Ketika melaksanakan ibadah shalat misalnya, untuk tepat waktu, memenuhi syarat rukunnya dan senantiasa berjamaah, semua membutuhkan kesabaran dalam melakukannya. Walau dalam kondisi banyak musibah, wabah, sakit, serba kekurangan, atau dalam serba kesibukan tetap konsisnten beribadah kepada Allah SWT.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Dan perintahkanlah keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang sabar”(QS. Surat Thaha:132).
Kedua, sabar dalam maksiat. Godaan untuk bermaksiat saat ini begitu kuat. Berbagai sarana dan fasilitas kemaksiatan begitu mudah didapat. Akses Judi, pornografi dan ribawi ada dalam aplikasi. Seseorang mesti sabar menghindarinya. Karena rasa takut akan siksa Allah dan malu atas kebesaran Allah.
Saat Nabi Yusuf AS mendapat godaan wanita (Zulikhah), ia bersabar untuk tidak terjebak,
قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ وَإِلاَّ تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُنْ مِنْ الْجَاهِلِينَ
“Yusuf berkata: ‘Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka. Jika Engkau tidak menolak godaan mereka, aku akan cenderung kepada mereka dan aku akan termasuk orang-orang yang bodoh.'” (QS. Yusuf: 33)
Kondisi sedang sangat butuh dan ada peluang untuk korupsi. Namun kesempatan itu ditinggalkan, tetap sabar menunggu rizki yang halal. Demikianlah saat seorang pengembala ribuan kambing diuji mental oleh khalifah Umar bin khatab agar ia menjualnya dengan harga berlipat. Ia menolak karena berkeyakinan bahwa Allah senantiasa melihatnya walau majikannya jauh darinya. Dia sabar untuk tidak mengkhianati amanah.
Ketiga, sabar dalam syahwat.
Di samping kebutuhan, manusia memiliki keinginan, itulah syahwat. Kebutuhan dorongan dari dalam sedangkan keinginan kadang termotivasi oleh luar. Makan bisa asal kenyang, pakaian bisa asal pakai. Tapi keinginan menuntut menu serba enak, menuntut model serba gaya.
Perlu diingat syahwat tak pernah kenyang,) tak akan puas. Dari syahwat inilah munculnya berbagai petaka, maksiat dan kejahatan.
Sebuah nasihat mengatakan, ” Bumi dan isinya cukup untuk memenuhi kebutuhan semua manusia. Namun tidak akan cukup untuk memenuhi nafsu seorang manusia.”
Karna nafsu sahwatlah keserakahan terjadi di dunia ini. Hutan digunduli, laut dipagari, tambang digali dimana-mana. Tak hirau rakyat jelata terusir sengsara, tak lagi memperhatikan ekosistem, tak peduli lagi generasi masa depan.
Nabi SAW bersabda,
كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ ذَهَبٍ لَأَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ ثَالِثٌ وَلَا يَمْلَأُ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ
“andai anak Adam memiliki dua lembah emas, nicaya ia menginginkan lembah lagi dan tidak ada yang memenuhi mulutnya kecuali tanah (kematian)” ( HR.Titmidzi).
Karena itu syahwat harus dikendalikan bukan yang mengendalikan.
فَأَمَّا مَنْ طَغَ. وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا . فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى. وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى. فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى.
Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal (nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya). (QS. An-Nazi’at : 34-41)
Keempat, sabar dalam musibah. Manusia akan selalau mendapat ujian dari Allah SWT. Agar terlatih mentalnya teruji kesabaranya. Allah SWT berfirman,
ولَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ اْلأَمْوَالِ وَاْلأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗوَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Sungguh, Kami akan menguji kamu berupa sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (QS Al Baqarah [2]:155)
Dalam ayat tersebut ujian berupa musibah pasti akan datang. Banjir longsor, wabah, sakit dsb merupakan bagian dari musibah. Berakibat pada ketakutan, kehilangan jiwa, sulitnya pekerjaan, kekurangan pangan dsb.
Di sini kita perlu sabar bahwa semua itu ujian dari Allah SWT.
Hadirin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah…
Semoga Allah memberi kesabaran kepada kita dalam mengahadapi berbagai problema kehidupuan. Dalam beragam ujian semoga kita diberi kekuatan untuk tetap istiqomah dijalan-Nya. Senantiasa beramal sesuai dengan syariah-Nya.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ اْلكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Khutbah ke dua
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ
وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.
اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ
عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ












































