Adab-Adab Sosial; Ihtimam (ke 1) Oleh: Ust. Lathief Abdallah
(Pengasuh Pondok Baitul Hamdi)
REAKSINEWS.COM || Kisah memilukan terjadi pada 3 November 2025 di kendal, Jawa tengah. Dua remaja putri terbaring lemah, badan tinggal tulang. Di tengah keduanya, ibu mereka terbujur mati sudah membusuk dan dikerubuti belatung dan lalat. Kejadian tersebut diketahui setelah terlihat banyak lalat di jendela rumahnya dan tercium bau menyengat. Beberapa warga mendobrak pintu rumah untuk masuk. Kemudian dua remaja putri itu segera dibawa ke Rumah Sakit. Informasi didapat bahwa mereka sudah 28 hari tidak makan apapaun selain air putih. Di saat yang sama ibunya dalam keadan sakit kemudian wafat.
Fakta di atas menunjukkan lemahnya rasa peduli di tengah masyarakat saat ini. Jika lalat dan bau menyengat tidak mengabari mungkin semua penghuni rumah yang diceritakan itu sudah menjadi jenazah. Sungguh banyak kisah keperihatinan yang sampai kepada kita yang membutuhkan uluran tangan.
Islam mengajarkan kepada umatnya ihtimam yakni rasa peduli, care kepada sesama. Ihtimam mesti menjadi bagian karakter seorang muslim. Dalam sebuah hadist masyhur disebutkan,
مَن لَمْ يهتَمَّ بأمرِ المُسلِمينَ فليس منهم
“Barangsiapa yang tidak memperhatikan urusan kaum Muslimin, maka dia bukan golongan mereka” (HR.Thabrani).
Secara dini islam mengajarkan kepedulian terhadap diri sendri. Misal islam memerintahakn agar memakan makanan halal dan sehat ( halalan thayyiban), menjauhi yang merusak dan membahyakan raga dan jiwa semacam khamar, judi dsb. Islam mengajarkan peduli terhadap keluarga, seorang suami wajib memperhatikan papan, sandang, pangan, pendidikan dan kesehatan keluarganya. Membimbing ahlak dan ibadah mereka. Demikian pesan al Qur’an
يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْۤا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”(QS At-Tahrim 66: 6)
Tidak hanya terhadap masalah peribadi dan keluarga, Islam juga menekankan untuk ihtimam atau peduli terhadap sesama. Peduli terhadap lingkungan, tetangga, negara bahkan dunia. Sebuah hadits menyatakan dengan tegas;
مَا آمَنَ بِى مَنْ بَاتَ شَبْعَان وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ وَهُوَ يَعْلَمُ
“Tidaklah beriman kepadaku orang yang tidur dalam keadaan kenyang, sementara tetangga di sampingnya dalam keadaan lapar, padahal dia mengetahuinya.” (HR. At-Thabrani dan Al-Bazzar).
Berbagai musibah dapat menyengsarakan saudara-saudara kita. Akibat banjir, longsor, gempa bumi, tusnami, termasuk musibah karena penjahan seperti di Gaza dan akibat perang saudara di Sudan karena diprovokasi asing. Mereka kelaparan, kedinginan, kehilangan sanak saudara, kehilangan rumah sawah dan ladang.
Islam juga mengajarkan nilai kemanusiaan (insaniah). Menyelamatnya satu nyawa manusia apapun agama, suku dan bangsanya sama dengan menyelamatkan semua manusia.
وَمَنْ اَحْيَاهَا فَكَاَنَّمَاۤ اَحْيَا النَّاسَ جَمِيْعًا ۗ
“… Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya…” (QS. Al-Maidah (5): 32)
Berdo’a kebaikan untuk mereka yang mendapat musibah, berdonasi dengan harta, menjadi relawan di lapangan dsb adalah wujud dari ihtimam.
Orang yang membantu menyelesaikan permasalahan saudaranya, mencarikan solusi atas problemnya, meringankan beban berat yang dideritanya sungguh akan meraih pahala luar biasa besar!
Nabi SAW, bersabda;
لَأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِي فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا
Artinya: “Berjalan bersama seorang saudara untuk memenuhi kebutuhannya lebih aku sukai daripada beri’tikaf di masjid ini (Masjid Nabawi) selama sebulan.” (HR. Ibnu Majah dan Al-Bazzar).
Bentuk lain dari kepedulian adalah amar maruf nahi munkar menyeru kebaikan dan mencegah kemunkaran.
Bila tidak diingatkan orang lupa akan kebaikan, bila tidak dicegah akan terbiasa dalam keburukan. Termasuk mengingatkan dan mengkritisi kebijakan penguasa yang dapat menimbulkan bahaya bagi masa depan bangsa.
Nabi SAW dalam riwayat bukhari memberikan tamsil betapa pentingnya amar ma’ruf nahi munkar ini. Ibarat sebuah kapal dua tingkat, panumpang di bawah bila ingin mengambil air mesti naik ke atas melewati tingkat dua. Lalu ada yang berinisiatif melobangi bagian bawah agar mudah mendapati air. Jika semua diam. Tidak ada yang mncegah maka semua penumpang akan tenggelam. Bila ada yang mencegah semua akan selamat.
Sebuh ungkapan yang dinisbatkan kepada Ali Bin Thalib RA, mengatakan;
إِذَا سَكَتَ أَهْلُ الْحَقِّ عَنِ الْبَاطِلِ أَخَذَ أَهْلُ الْبَاطِلِ الْحَقَّ
“Jika ahli hak (orang-orang tahu yang benar) diam atas kebatilan, maka orang-orang yang melakukan kebatilan akan mengira bahwa mereka berada dalam kebenaran.”
Uniknya Islam memandang muslim terbaik yang paling dicintai Allah itu bukan hanya yang pada ragam dan banyak ritual ibadahnya tapi yang peduli di kehidupan sosialnya.
Sebagaimana disebut oleh Nabi SAW;
أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ , وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ
“Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia..” (HR. Thabrani)
Bahkan seorang dianggap dusta dalam agamanya; bohong getol shalatnya, rajin ngaji, berulang hajinnya bila tidak peduli pada sesamanya. Lebih lagi bila ia seorang pejabat negara yang seharus membuat kebijakan untuk mensejahterakn rakyat. Namun justru membuat kebijakan yang menyengaqrakan rakyatnya, mencuri hak rakyatanya mereka pejabat dusta dan jahat.
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ
وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ
Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. (QS. Almaun 1-3.)











































