REAKSINEWS.COM || SUKABUMI – Proyek rehabilitasi trotoar jalan di Jalan Pelabuhan II, depan Pasar Jabar, Kelurahan Lembursitu, Kecamatan Lembursitu, Kota Sukabumi, jadi buah bibir warga. Proyek yang menelan anggaran Rp198,6 juta dari APBD Kota Sukabumi tahun 2025 ini diduga kuat dikerjakan asal-asalan.
Pantauan awak media di lapangan menemukan kondisi yang janggal. Aspal terlihat tipis, permukaan tidak rata, dan mudah terkelupas. Bahkan, menurut pengakuan warga, lapisan aspal bisa dikorek hanya dengan tangan kosong.
“Kami melihat sendiri, aspalnya sangat tipis. Baru dilalui beberapa kendaraan sudah mulai terkelupas. Kalau seperti ini, jelas kualitasnya buruk,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Tidak Sesuai Standar Teknis, Dalam standar pengerjaan jalan, proses pengaspalan seharusnya melalui tahapan jelas: perataan dasar (subgrade), hamparan agregat pondasi bawah dan pondasi atas, kemudian lapisan pengikat (prime coat dan tack coat) sebelum akhirnya ditutup lapisan aspal panas (hotmix) dan dipadatkan dengan gilas berulang kali.
Namun, warga menilai tahapan itu tidak dijalankan dengan benar.
“Kami lihat, tidak ada penghamparan aspal pengunci. Mereka langsung menutup dengan agregat penutup, digilas sebentar, lalu ditaburi abu. Itu sebabnya aspalnya gampang copot,” ungkapnya.
Kontraktor Pelaksana Disorot, Berdasarkan papan informasi proyek, kegiatan ini dikerjakan oleh CV. Karya Darmawan dengan nomor SP Pl.04.02.02/04-SP/Rehab.Trot-Jl. Pelabuhan 0044/PPK-BM/DPUTR 2025 Tgl. 29 Juli 2025. Proyek ini direncanakan selesai dalam 59 hari kalender.
Namun, melihat kualitas yang disajikan, warga dan pengendara semakin sangsi terhadap komitmen kontraktor.
“Kalau uang hampir Rp200 juta hasilnya begini, sangat mengecewakan. Pemerintah harus turun tangan. Jangan sampai anggaran rakyat hanya jadi proyek bancakan,” tegas seorang sopir angkot.
Masyarakat mendesak Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kota Sukabumi segera melakukan audit kualitas. Mereka juga menuntut sanksi tegas jika terbukti ada pelanggaran spesifikasi teknis.
“Kalau dibiarkan, ini bisa jadi preseden buruk. Proyek berikutnya bisa lebih parah lagi. Kami butuh pembangunan yang benar-benar bermanfaat, bukan asal jadi,” tutup warga dengan nada geram.
Reporter : Tim












































