Oleh: Lathief Abdallah
(Pengasuh Pondok Baitul Hamdi Sukabumi)
REAKSINEWS.COM || Saat menyampaikan kajian sirah nabi di salah satu majlis, ada mustami bertanya, jika nabi Muhammad SAW buta huruf atau ummi berarti bertentangan dengan sifat fathanahnya. Fathanah artinya cerdas. Bagaimana bisa cerdas toh nabinya buta huruf. Jika awalnya beliau buta huruf, apakah sepanjang hayat beliau tidak belajar hingga beliau bisa baca tulis?
Menjawab pertanyaan tersebut mungkin dibutuhkan uraian sedikit panjang. Namun saya coba meringkasnya.
Nabi Muhammad SAW ditakdirkan sebagai yatim. Beliau tidak pernah melihat wajah ayahnya. Ayahnya wafat saat beliau usia 2 bulan dalam kandungan. Juga tidak lama hidup dengan ibunya setelah usia beliau 6 tahun. Masa kecil beliau dalam keadaan keluarga miskin dan beliau tidak memiliki akses pengetahuan. Seperti diungkap dalam al Qur’an Surat Adduha ayat 6-8;
اَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيْمًا فَاٰوٰىۖ وَوَجَدَكَ ضَاۤلًّا فَهَدٰىۖ وَوَجَدَكَ عَاۤىِٕلًا فَاَغْنٰىۗ
.
“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi(-mu); mendapatimu sebagai seorang yang tidak tahu (tentang syariat), lalu Dia memberimu petunjuk (wahyu); dan mendapatimu sebagai seorang yang fakir, lalu Dia memberimu kecukupan?”
Kaadaan nabi lainya adalah beliau sebagai orang ummi. Ummi dari kata ‘umun’ artinya ibu. Setiap yang lahir dari seorang ibu tidak mengetahui apa-apa. Orang arab menyebut ummiy (ummi) bagi yang tidak bisa membaca dan menulis. Sebagaimana umumnya bangsa Arab bangsa yang ummiyin, mayoritas tidak dapat membaca dan menulis. Hal demikian dijelaskan dalam al Qur’an Surat Al Jumu’ah ayat 2;
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الأمِّيِّينَ رَسُولا مِنْهُمْ
“Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri
Bangsa Arab disebut bangsa ummi ‘liisytiharihim adamil kitabati wal qira’ati’, terkenal ketidakmampuan mereka dalam membaca dan menulis. Demikian dalam tafsir Ali Ash Ahbuni 3 :257.
Dalam hadist sendiri Nabi SAW, menyatakan
إنَّا أمَّةٌ أمِّيَّةٌ لا نكتُبُ ولا نحسِبُ.
Kita adalah umat yang ummi, tidak menulis dan tidak menghitung (H Bukhari)
Kalangan ahlul kitab juga mengenal ke- ummi-an beliau dalam kitab-kitab mereka sebagai tanda nabi terkahir.
اَلَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ الرَّسُوْلَ النَّبِيَّ الْاُمِّيَّ الَّذِيْ يَجِدُوْنَهٗ مَكْتُوْبًا عِنْدَهُمْ فِى التَّوْرٰىةِ وَالْاِنْجِيْلِ
Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis) yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka. (QS.Ala’raf : 157)
Kadaan Ummi nabi ini berkait dengan al Qur’an sendiri. Apakah al Qur’an itu karya orang-orang arab, karya Nabi Muhammad atau datang dari Allah SWT. Secara aqli (rasional), semua orang arab tidak mampu menjawab tantangan untuk membuat al Quran semisal bahkan satu surat sekalipun. Nabi Muhammad SAW termasuk orang arab maka ia pun tidak mungkin mampu membuatnya. Maka tidak ada jawaban lain bahwa Qur’an itu datang dari Allah SWT semata (An Nabhani, Naidzam al Islam B
bab thariqul Iman Hal:9).
Kendati Nabi itu ummi tapi dari lisannya terlahir sebuah bacaan berbahasa Arab yang sangat fasih. Di dalamnya ada informasi umat terdahulu, kabar masa depan, penjelasan tentang Tuhan, alam akhirat, kritik terhadap agama lain, panduan hidup, prinsip-prinsip moral, hukum dan lain-lain.
Dan semua itu dikemas dalam gaya bahasa yang tak mampu ditandingi oleh manusia manapun. Kepada siapapun yang meragukan kebenarannya, al-Quran sudah mengemukakan tantangan sejak belasan abad yang lalu. Sejumlah upaya, untuk memenuhi tantangan itu, sudah dilakukan oleh beberapa orang. Tapi faktanya tidak ada yang berhasil. Cobalah Anda tanya pakar bahasa Arab manapun di dunia ini. Pakar yang benar-benar pakar. Lalu tanyakan pendapat mereka tentang bahasa al-Quran.
وَإِن كُنتُمْ فِى رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا۟ بِسُورَةٍ مِّن مِّثْلِهِۦ وَٱدْعُوا۟ شُهَدَآءَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمْ صَٰدِقِينَ
Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. (QS. Al Baqarah ayat 23)
Sekiranya ada manusia yang mampu memenuhi tantangan al-Quran itu, maka niscaya dia akan menjadi perbincangan masyarakat dunia. Dan ketika itu klaim kenabian pun bisa diragukan. Kalau memang ada yang mampu. Tapi faktanya tidak ada sampai sekarang. Dan fakta bahwa kitab itu tidak bisa tertandingi oleh manusia tentunya membuat kita yakin bahwa kitab itu bukan berasal dari sumber yang biasa. Tapi dia adalah wahyu yang berasal dari Allah Swt. Dan Muhammad SAW adalah nabi-Nya.
Sekiranya Nabi Muhammad itu hidup lama dengan ayah ibunya, mungkin orang-orang kafir akan punya alasan untuk menolak kenabiannya. “Ya kamu bisa begini karena diajarin sama orang tua kamu.” Bisa jadi mereka akan berkata begitu. Sekiranya beliau melakukan kegiatan membaca dan menulis, atau terbukti pernah belajar ke orang lain, itu juga bisa dijadikan alasan untuk meragukan kenabiannya. Mungkin aja kan itu hasil belajarnya selama beliau hidup?
اَمْ يَقُولُونَ ٱفۡتَرَىٰهُۖ قُلۡ فَأۡتُواْ بِسُورَةٖ مِّثۡلِهِۦ وَٱدۡعُواْ مَنِ ٱسۡتَطَعۡتُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ
Bahkan apakah (pantas) mereka mengatakan, “Dia (Nabi Muhammad) telah membuat-buat (al-Quran) itu?” Katakanlah (Nabi Muhammad), “(Kalau demikian), buatlah satu surah yang semisal dengan al-Quran itu dan ajaklah siapa yang dapat kalian ajak selain Allah (untuk menolong kalian) jika kalian orang-orang yang benar.” (QS Yunus [10]: 38).
Bagi kita, tidak membaca dan menulis itu adalah sebuah aib. Tapi bagi Nabi Muhammad itu adalah sebuah kemuliaan. Karena itu menjadi bukti kuat akan kenabiannya.
وَمَا كُنْتَ تَتْلُو مِنْ قَبْلِهِ مِنْ كِتَابٍ وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ ۖ إِذًا لَارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ.
“Dan engkau (Muhammad) tidak pernah membaca sesuatu kitab sebelum (Al Quran) dan engkau tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu; sekiranya (engkau pernah membaca dan menulis),niscaya ragu orang-orang yang mengingkarinya” (al-Ankabut : 48)
Lalu, apakah di kemudian hari Nabi belajar membaca dan menulis? Dalam buku Dirasah Tahliliyah li syakhshiyati ar Rasuli Muhammad diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan judul ‘Mengenal Nabi Lebih Dekat’, terbiatan CV.Idea Pustaka Utama 2004 hal 100, menyimpulkan bahwa ada sebagaian ulama atau sejarawan berpendapat bahwa beliau itu secara berproses bisa menulis. Ada dasar dijadikan pijakan beberpa hadits dan astar (pernyataan sahabat). Namun dinyatakan sacara sanadnya lemah. Atau konotasi yang keliru dalam memahaminya. Antara lain saat Nabi dihalangi masuk Makah terjadilah perjanjian damai dengan kaum musyrikin Makah. Di antaranya kalimatnya ada tulisan ‘Muhammad Rasululullah’ mereka menolaknya, lalu nabi meminta kepada Ali agar menggantinya dengan kata ‘Muhammad bin Abdullah”. Sebagian ada yang memahami nabi sendiri yang menulis ulangnya. Padahal nabi hanya memerintahkan kepada Ali sebagai sekretaris nabi untuk menulisnya.
Alhasil, kenyataan bahwa umminya nabi adalah sebagai berkait mukjizat al Quran sendiri sehingga tidak ada alasan logis atas tuduhan bahwa Qur’an buatan Nabi Muhammad SAW. Adapun kecerdasan nabi dalam memahami pengetahuan bersumber pada satu sumber yaitu wahyu.
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوٰى اِنْ هُوَ اِلَّا وَحْيٌ يُّوْحٰىۙ
“Dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut keinginannya.Tidak lain (Al-Qur’an itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”.











































