Reaksinews.com || Terlihat Restu membawa satu karung besar hasil dari mulung rongsok, yang tidak sebanding dengan tubuh nya yang kecil, berat? pasti, tapi ini harus di lakukan restu demi adik dan Ibu di rumah.
Siapa sangka, Restu (12 tahun) harus menghadapi kenyataan pahit setelah kehilangan Ayahnya yang meninggal karena sakit jantung.
Kini, Restu menggantikan peran sang ayah menjadi tulang punggung keluarga untuk menghidupi Ibu dan Adiknya.
Sejak ayahnya meninggal, Restu terpaksa putus sekolah. Ibu Restu, Nurhayati, mengalami kebutaan sejak lahir dan tidak bisa berbuat banyak untuk membantu keluarga.
Restu berjalan puluhan kilometer setiap hari, berjuang di bawah terik matahari dan debu jalanan, mengumpulkan rongsokan untuk dijual.
“Dari satu karung besar rongsokan, ia hanya mendapatkan sekitar Rp 25 ribu, tergantung jenis rongsokan yang ia jual. Meski hasilnya tidak seberapa, Restu selalu berusaha membawa pulang sebungkus nasi untuk dimakan bersama Ibu dan adiknya. Senyum bahagia Ibu selalu menjadi motivasi Restu untuk terus berjuang,” bebernya.
Nurhayati menceritakan betapa sulitnya kehidupan mereka setelah suaminya meninggal.
Sebenarnya saya ingin sekali bekerja, tapi karena saya bvtadan tidak bisa melihat sama sekali, saya bingung mau kerja apa. Sejak suami saya meninggal, anak saya Restu yang mencari uang untuk saya dan adiknya, ucap Ibu Nurhayati.
Restu adalah anak yang baik dan berbakti kepada orang tua. Kehilangan sosok ayah sangat berat dirasakan oleh Restu, namun ia tetap teguh menjalani perannya sebagai tulang punggung keluarga di usia yang masih sangat muda.
“Bahkan setiap hari, setelah pulang dari memulung, Restu membantu Ibunya membersihkan luka di kaki akibat terbentur saat membersihkan rumah,” pungkasnya.












































