Oleh : Lathief Ab
Pengasuh Pondok Baitul Hamdi
ReaksiNews.com || Sukabumi – Di setiap bulan Robi’ul Awal atau dikenal dengan bulan Maulud_karena berkaitan erat dengan bulan kelahiran Nabi Muahmmad SAW, ayat yang paling familier di kalangan umat Islam terutama antara lain Q.S al Anbiya ayat 107 ” Wama arsalnaka illa rahmatan lil alamin.
Tidak Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh semesta”.
Karena ayat tersebut menjelaskan misi yang dibawa Nabi Muhammad adalah rahmatan lil alamin, rahmat bagi seluruh alam.
Namun saat ini ada penggeseran bahkan penyesatan makna rahmatan lilalamain. Ia diartikan sebagai islam toleran dengan segala perbedaan, Islam menyesuaikan dengan budaya lokal, pluralisme yaitu membenarkan semua agama, bahkan sinkritisme, mencampuradukan agama. Kita saksiakan berkedok rahamatan lilalamin, ada yang salawatan di gereja pada acara natalan, dan ikut natalan bersama.
Lalu, apa makna sebenarnya “rahmatan lil alamin” itu? Membaca uraian para mufasir, ada tiga pengertian dari makna ‘rahmatan lil alamin’ dalam ayat di atas;
Pertama. “Rahamatan lil alamin” bermakna bahwa nabi Muhammad membawa hidayah untk seluruh manusia _rahhmatun muhdatun (rahmat yang dihadiahkan)_ hanya saja ada yang menerima dan ada yang menolak. Sebagaimana dalam hadits disebut permisalan apa yang dibawa nabi Ibarat air hujan dari langit turun ke bumi dengan merata. Hanya saja ada tanah yang dapat menyerap air kemudian menumbuhkan berbagai tanaman yang bermanfaat bagi kehidupan. Ada tanah yang keras becadas air hanya berlalu saja. Al Qur’an menyebut hujan dengan Rahmat (QS al-Furqan (25) : 48).
Demikian juga manusia. Baik Abu Bakar ataupun Abu Jahal, Usman bin Affan maupun Abdullah bin Ubay, kepada mereka telah sampai hidayah Irsyad wal Bayan, petunjuk dan penuntun berupa al-Qur’an dan Rasulullah. Namun sebagiannya menerima dan yang lainnya menolak. Di Dunia saat ini dihuni oleh 7 miliyar manusia. Semua hidup pasca diutusnya Rasulullah dan semua dihadiahi rahmat itu. Namun hanya 1,5 miliyar saja menerimanya.
Makna “rahmat lil alamin” yang kedua sebagai keutamaan Nabi Muhammad SAW dengan ditiadakannya adzab i’tishal ( adzab yang memusnahkan ) bagi umatnya. sebagaimana terjadi pada umat di masa nabi sebelumnya.
Puluhan bangsa di masa lalu hanya tinggal kisah di dalam alQur’an. Mereka yang membangkang para Rasul kemudian berakhir dengan tragis hingga bangsa itu punah secara keseluruhan. Sebagaimana kisah kaum Ad, Sadom, Aikah, Tsamudl dll. Tetapi karena Rahmat yang di bawa oleh nabi, ummat beliau tidak mengalami kepunahan kendati perilaku pembangkangan, kebiadaban melebihi kaum sebelumnya.
Rasulullah SAW bersabda, “aku memohon kepada Allah tiga perkara, Dia mengabulkan dua perkara sedangkan satunya lagi tidak dikabulkan. Aku memohon agar umatku tidak binasa oleh bencana kelaparan, maka Dia mengabulkan permohonan ini. Aku memohon agar umatku tidak dikuasai oleh musuh dari luar mereka, Dia pun mengabulkannya. Namun ketika aku memohon agar umatku tidak merasakan kekejaman di antara sesamanya, Dia tidak mengabulkannya.” (HR. Tirmidzi)
Ibnu Abbas ra ketika menafsirkan ayat diatas beliau berkata, “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, ditetapkan baginya rahmat di dunia dan akhirat. Namun siapa saja yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, bentuk rahmat bagi mereka adalah dengan tidak ditimpa musibah yang menimpa umat terdahulu, seperti mereka semua di tenggelamkan atau diterpa gelombang besar”
Makna ‘Rahmatan lil alamin’ yang ketiga adalah bahwa seluruh syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. membawa kebaikan, kemaslahatan untuk seluruh manusia.
Imam Al Baidlôwi (w. 685 H) dalam tafsirnya menjelaskan Surat al-Anbiya ayat 107 di atas. Karena sesungguhnya apa-apa (syari’at) yang engkau (Muhammad saw) diutus dengannya adalah sebab bagi kebahagiaan dan kebaikan kehidupan (dunia) mereka dan kebaikan tempat kembali (akhirat) mereka
Islam sebagai sistem hidup yang lengkap, menjawab segala persoalan, memberikan solusi atas setiap permasalahan dan mewujudkan kehidupan yang penuh berkah. Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allâh dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu” (QS. Alanfal(8):24)
Sebagai contoh, saat Islam melarang minuman khomar maka akan terjaga kesehatan akal manusia. Islam melarang Zina dan menganjurkan nikah akan terjaga kelestarian generasi bangsa. Islam memerintahkan pakaian jilbab bagi wanita akan terjaga kehormatannya manusia dan ketika Islam mengharamkan riba akan terjaga kesetabilan ekonomi.
Sejarah mencatat, 12 abad syariat Islam diwujudkan dalam sistem kekhilafahan yang mengatur hampir 2/3 dunia telah menebar rahmat; kemuliaan, keadilan, kesejahteraan, keamanan dan kedamaian bagi seluruh manusia tanpa membedakan ras, suku, bangsa dan agama.
Hal ini diakui oleh para sejarawan Barat antara lain Will Durant Dalam buku yang ia tulis bersama Istrinya Ariel Durant, Story of Civilization, ia mengatakan: “Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka.
Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama beradab-abad dalam wilayah yang sangat luas. Fenomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka”











































