REAKSINEWS.COM || TABUNIO – Sejumlah nelayan Tabunio mempertanyakan pernyataan Kepala Desa Tabunio yang menyebut kondisi pengelolaan BBM bersubsidi jenis solar untuk nelayan di wilayahnya baik-baik saja. Pernyataan tersebut dinilai tidak sesuai dengan fakta di lapangan.
Untuk membuktikan kondisi sebenarnya, nelayan meminta Aliansi Mahasiswa Tuntung Pandang dan awak media melakukan investigasi langsung terhadap penyaluran BBM subsidi. Hal itu disampaikan oleh beberapa nelayan berinisial A, B, C, dan rekan-rekannya.
Menindaklanjuti permintaan itu, perwakilan Aliansi Mahasiswa Tuntung Pandang bersama awak media melakukan investigasi ke SPBUN No. 68.708.002 pada Sabtu, 6 Juni 2026. Sekitar pukul 13.00 WITA, pengelola SPBUN, Nurul Tasiah, terlihat sedang mencatat pengisian BBM jenis solar ke jeriken untuk keperluan nelayan.
Namun, aktivitas pengisian tiba-tiba dihentikan dan pengelola langsung berkemas begitu melihat kedatangan awak media dan mahasiswa di lokasi.
Awak media berupaya mengonfirmasi dan mempersilakan agar pengisian dilanjutkan. “Silakan dilanjutkan, Pak. Kami hanya ingin melihat langsung proses penyaluran BBM ke nelayan,” ujar awak media.
Saat dimintai keterangan mengenai barcode dan _log book_, pekerja SPBUN menyatakan, “Kami hanya bertugas mengisi. Urusan administrasi ada di bagian admin dan Ibu Nurul. Mereka yang mencatat.”
Menurut keterangan nelayan berinisial B, kondisi seperti itu sudah berlangsung lama. “Kalau ada yang datang, pengisian pasti dihentikan. Kalau mereka tidak pergi, kami bisa dapat BBM sampai malam. Padahal kami butuh segera melaut. Jika BBM terhambat, kami juga tertunda melaut,” ujarnya.
Beberapa nelayan dan istri nelayan yang mengambil BBM membenarkan kondisi tersebut. Saat ditanya soal _log book_ dan barcode, mereka mengaku tidak mengerti dan tidak pernah diberi tahu.
“Kami hanya menerima berapa yang diberikan sesuai yang disampaikan Ibu Nurul. Soal pencatatan, kami tidak tahu,” kata mereka.
Kejanggalan lain disampaikan nelayan berinisial P. Ia mengaku sudah membayar penuh pada April 2026, tetapi hingga 6 Juni 2026 belum menerima BBM subsidi yang telah dibayarkan. padahal jelas tercatat jika pengiriman dari pihak Pertamina di bulan mei terpenuhi sesuai rekomendasi dari dinas perikanan.
Nelayan menyebut praktik pembayaran di muka lazim terjadi. “Biasanya pengelola minta dibayar dulu, penerimaan BBM-nya bulan berikutnya,” ujar nelayan. Hal itu dibenarkan oleh pekerja pengisian SPBUN.
Ketika ditanya apakah penyaluran BBM subsidi berjalan baik, nelayan justru heran dengan pernyataan Kepala Desa Tabunio. “Kok Pak Kades bisa bilang kondisinya baik-baik saja? Ada apa ya, Pak?” ujar mereka dengan nada heran.
Menanggapi hal itu, perwakilan Aliansi Mahasiswa Tuntung Pandang memberikan edukasi kepada nelayan.
“Kami datang karena ada pemberitaan yang menyebut pembagian BBM di Tabunio baik-baik saja. Padahal sebelumnya ada pemberitaan dan tayangan YouTube yang menyebut penyaluran BBM subsidi solar tidak transparan,” jelasnya.
Masyarakat nelayan Tabunio berharap mendapat penjelasan dari Kepala Desa Tabunio terkait pernyataan tersebut. “Kami ingin bertanya, tapi tidak berani,” ucap salah seorang nelayan.
Perwakilan Aliansi Mahasiswa Tuntung Pandang mendesak Kepala Desa Tabunio segera memberikan klarifikasi atas temuan di lapangan. “Jika diabaikan, aliansi mahasiswa akan mengusut hal ini hingga ke tingkat provinsi, bahkan ke kementerian,” tegas Makmur, perwakilan aliansi.
Hingga berita ini diterbitkan, redaksi belum memperoleh keterangan resmi dari Kepala Desa Tabunio.
Redaksi Memberikan ruang hak jawab dan hak koreksi kepada seluruh pihak yang disebutkan dalam pemberitaan ini sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik.
Iswandi












































