Oleh : Ust.Lathief Ab.(Pemerhati sosial Dan keagamaan).
REAKSINEWS.COM || Di India, peternak sapi protes karena tahun 2026 ini, jelang Iedul Adha sapi mereka sepi peminat. Hal tersebut karena pemberlakuan UU yang sangat ketat, antara lain sapi yang boleh disembelih harus di atas usia 14 Tahun, penyembelihan wajib di rumah potong pemerintahan. Hal demikian dianggap mempersulit konsumen yang mayoritas dari kaum muslim untuk kebutuhan Qurban.
Berita dari India tersebut dapat dipahami bahwa Qurban memiliki dimensi ekonomi secara internasional disamping dimensi spiritual dan sosial.
Qurban sendiri bermakna mendekatkan diri kepada Allah melalui penyembelihan hewan. Disebut juga udhiyah karena penyembelihan hewan di waktu dhuha setelah shalat Ied. Juga disebut annahr, karena dialirkannya (disembelihnya) darah hewan. Seperti dalam Al Qur’an surat Al-Kautsar ayat 2 disebutkan, “Fashalli li rabbika wanhar -Laksanakanlah salat karena Tuhan-mu dan sembelihlah kurban.”
Qurban berdimensi spiritual karena merupakan bentuk pendekatan (taqarub) seorang muslim kepada Allah sekaligus manipestasi dari syukur atas nikmat yang telah diterimanya. Dari qurban tersebut seseorang akan mendapatkan pahala luar biasa. “Pada setiap helai rambut dan bulu (hewan Qurban) adalah kebaikan.” (HR Ibnu Majah dan Hakim).
Qurban memiliki nilai ekonomi luar biasa. Sebelum diberlakukannya UU di India, seperti diceritakan di awal, baik peternak sapi kalangan muslim maupun dari kalangan Hindu selalu meraup keuntungan besar saat jelang ‘iedul adha.
Di Indonesia sendiri menurut laporan Baznas pada tahun 2025, hewan qurban sapi dan kerbau berjumlah 627.130 ekor,
sedangkan kambing dan domba sejumlah 1.229.832 ekor. Total Hewan: 1.856.962 ekor bila diuangkan senilai 21,1 Triliun. ini berarti ada perputaran uang begitu besar yang dapat menggerakkan roda ekonomi secara real di tengah masyarakat.
Secara sosial jelas sekali dampaknya. masyarakat khususnya golongan fakir miskin merasakan kebahagian luar biasa mendapat daging gratis, berkah dan bergizi. Dapat dilihat bagaimana bahagianya mereka saat menerima kupon dan menukarkan dengan gantingan.
Dan sejatinya dalam Islam, hewan qurban yang disembelih itu secara tauhid ditujukan sebagai persembahan kepada Allah SWT yang telah memberi rizki kepada hambanya. Namun dagingnya dimakan oleh manusia. Karana Allah sama sekali tidak butuh apapun dari manusia (Al hajj: 37).












































