REAKSINEWS.COM || SUKABUMI – Menjelang bergulirnya Konfercab PAC Ansor Bantargadung, nama Doni Damara mulai ramai diperbincangkan. Sosok yang digadang-gadang akan maju sebagai calon Ketua PAC Ansor Bantargadung itu tampil bukan dengan manuver politik yang gaduh, melainkan lewat gagasan tentang kaderisasi dan keberlanjutan organisasi.
Di tengah hiruk-pikuk perebutan posisi dalam banyak organisasi, Doni justru mengingatkan satu hal penting yang menurutnya sering terlupakan: estafet kepemimpinan.
Baginya, organisasi sebesar Ansor tidak akan bertahan hanya dengan program kerja yang ramai dipublikasikan. Ada “ruh” lain yang menentukan hidup matinya organisasi, yakni kaderisasi yang berjalan secara masif, sehat, dan akuntabel.
“Kekuatan organisasi bukan hanya pada besarnya kegiatan, tetapi pada kemampuan melahirkan generasi penerus. Ketika kaderisasi berhenti, di situlah organisasi perlahan kehilangan arah,” ujarnya, Sabtu (23/5/2026).
Doni menilai, Ansor bisa bertahan hingga hari ini karena adanya tradisi pembinaan dari generasi sebelumnya. Para senior, kata dia, tidak hanya memimpin, tetapi juga memberi ruang kepada kader muda untuk belajar, tumbuh, bahkan melakukan kesalahan sebagai bagian dari proses pendewasaan organisasi.
“Pendahulu kita dulu memberikan kepercayaan kepada generasi muda. Sekarang giliran kita menjaga estafet itu agar tidak terputus,” katanya.
Dalam pandangannya, ada tiga langkah penting yang harus segera diperkuat di tubuh PAC Ansor Bantargadung.
Pertama, mencari dan membina kader berdasarkan kapasitas serta dedikasi, bukan sekadar kedekatan atau jabatan struktural. Menurutnya, banyak kader potensial justru lahir dari mereka yang bekerja tanpa banyak sorotan.
“Kader terbaik sering kali adalah mereka yang bekerja diam-diam. Mereka konsisten hadir dan menjalankan tugas organisasi tanpa harus selalu tampil di depan,” tegas Doni.
Kedua, ia menekankan pentingnya pembelajaran langsung melalui penugasan nyata, termasuk penguatan administrasi organisasi dan pemahaman AD/ART. Menurutnya, kepemimpinan tidak lahir secara instan.
“Pemimpin dibentuk dari proses. Berikan kader amanah sesuai kapasitasnya, dampingi, lalu evaluasi dengan baik. Dari situ karakter dan tanggung jawab akan tumbuh,” ungkapnya.
Hal menarik lainnya adalah gagasan Doni tentang pentingnya membangun hubungan kekeluargaan di internal organisasi. Ia menilai loyalitas kader tidak bisa hanya dibangun melalui aturan formal, melainkan lewat rasa memiliki dan komunikasi yang hangat.
“Semua kader harus diberi ruang berekspresi. Organisasi tidak boleh menjadi tempat yang kaku. Ketika kader merasa dihargai, mereka akan bertahan dan mengabdi dengan hati,” ujarnya.
Sebagai bentuk keseriusannya, Doni menyatakan siap terlibat langsung dalam proses pembinaan kader di PAC Ansor Bantargadung. Ia bahkan mengusulkan agenda rutin berupa diskusi tematik, penguatan nilai dasar organisasi, hingga pelatihan kepemimpinan bagi kader muda.
Di tengah dinamika organisasi yang terus berubah, Doni percaya satu hal: organisasi besar tidak dibangun oleh satu orang, melainkan oleh generasi yang terus disiapkan untuk melanjutkan perjuangan.
“Ansor harus tetap hidup lintas generasi. Karena organisasi besar bukan tentang siapa yang memimpin hari ini, tetapi siapa yang siap melanjutkan perjuangan esok hari,” pungkasnya.












































