REAKSINEWS.COM || SUKABUMI — Di balik hiruk-pikuk aktivitas dapur SPPG Assalam Sukaharja, terselip kisah sederhana namun penuh makna tentang perjuangan hidup. Getet Aripandi (48), warga Desa Sukaharja, Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, menjadi satu dari sekian banyak sosok yang merasakan perubahan nyata sejak bergabung sebagai pekerja di program tersebut.
Selama delapan bulan terakhir, Getet menapaki babak baru kehidupannya. Ayah dua anak ini sebelumnya hanya mengandalkan pekerjaan serabutan yang tak menentu. Hari ini bekerja, besok belum tentu.
“Kalau serabutan itu kan kadang ada, kadang gak ada dan gak menentu. Tapi semenjak kerja di SPPG ini sudah terlihat penghasilan per bulan itu berapa,” ujarnya, di jumpai oleh wartawan di SPPG Assalam Sukaharja Selasa (31/3/2026).

Perubahan itu bukan sekadar angka di dompet, tetapi juga ketenangan dalam menjalani hidup. Jika dulu pekerjaan hanya datang dua hingga tiga hari, bahkan kadang hanya sekali dalam sepekan, kini ia memiliki kepastian.
“Kalau di serabutan itu paling ada kerjaannya 2 hingga 3 hari, terkadang 1 minggu. Kalau di sini itu per bulan, dan alhamdulillah cukup untuk keluarga,” tuturnya.
Bagi Getet, bekerja di SPPG bukan hanya soal rutinitas, tetapi juga tentang harga diri dan kemampuan memenuhi kebutuhan keluarga. Ia mengaku, kini segala keperluan rumah tangga bisa lebih terencana.
“Ada sih perubahan. Kalau kita ada keperluan itu bisa tercukupi semenjak saya bekerja di sini. Beda jauh dengan pekerjaan saya yang dulu serabutan, di sini itu tiap hari ada,” katanya.
Ia menilai program MBG (Makan Bergizi Gratis) yang menjadi bagian dari kegiatan di SPPG memiliki dampak luas, tidak hanya bagi penerima manfaat, tetapi juga para pekerja di dalamnya.
“Menurut saya bagus program MBG ini. Kalau dihentikan, gimana nasib kita dan rekan-rekan relawan lain se-Indonesia. Sekarang cari pekerjaan dengan penghasilan tetap itu sulit,” ungkapnya.
Ia pun berharap program tersebut terus berlanjut, menjadi penopang hidup bagi banyak keluarga.
“Saya harap program ini berkelanjutan. Soalnya saya sudah menikmati pekerjaan ini, susah senangnya sudah dirasakan,” tambahnya.
Hal senada diungkapkan Risti Orini (42), rekan kerja Getet di SPPG. Ia merasakan langsung suka duka bekerja, terutama harus berjauhan dengan anak.
“Sukanya tentu dapat upah. Dukanya mungkin jauh dari anak, tapi alhamdulillah masih ada yang mengurus sama neneknya,” imbuhnya.
Di tengah kondisi ekonomi yang sempat goyah akibat suaminya terkena PHK, kehadiran program MBG menjadi penopang penting bagi keluarganya.
“Beberapa waktu lalu suami sempat kena PHK. Kebetulan ada MBG ini, jadi terbantu banget,” katanya.
Risti pun menyimpan harapan yang sama, agar program ini tidak berhenti di tengah jalan. Di balik dapur sederhana SPPG Assalam Putri, kisah-kisah seperti Getet dan Risti menjadi bukti bahwa sebuah program tak hanya memberi makan, tetapi juga menghidupkan harapan.
Jul












































