Oleh: Ust. Lathief Abdallah
(Pondok Baitul Hamdi)
REAKSINEWS.COM || Menghidupkan malam nishfu sya’ban (pertengahan bulan Sya’ban, tanggal 15 Sya’ban) termasuk hal yang diajurkan oleh mayoritas ulama. Sebagian ulama menganjurkan untuk menghidupkan malam nishfu sya’ban dilakukan secara berjamaah (berkumpul di masjid-masjid), dan sebagiannya lagi hanya menganjurkan menghidupkan malam nishfu ini dengan ibadah secara masing-masing. (Syaikh Qudaisy Al-Yafi’i, Hukm Ihya Laylatay Al-‘Ied wa Laylata An-Nishf, hal. 1)
Hal ini dikuatkan oleh pendapat Imam Ibn Taimiyyah dalam Majmu’ Al-Fatawa [23/132],
وَأَمَّا لَيْلَةُ النِّصْفِ فَقَدْ رُوِيَ فِي فَضْلِهَا أَحَادِيثُ وَآثَارٌ، وَنُقِلَ عَنْ طَائِفَةٍ مِنَ السَّلَفِ أَنَّهُمْ كَانُوا يُصَلُّونَ فِيهَا، فَصَلَاةُ الرَّجُلِ فِيهَا وَحْدَهُ قَدْ تَقَدَّمَهُ فِيهِ سَلَفٌ، وَلَهُ فِيهِ حُجَّةٌ، فَلَا يُنْكَرُ مِثْلُ هَذَا، وَأَمَّا الصَّلَاةُ فِيهَا جَمَاعَةً فَهَذَا مَبْنِيٌّ عَلَى قَاعِدَةٍ عَامَّةٍ فِي الِاجْتِمَاعِ عَلَى الطَّاعَاتِ وَالْعِبَادَاتِ.
“Dan adapun malam nishfu sya’ban maka terdapat riwayat berkenaan dengan keutamaannya, berbagai hadits dan atsar. Dinukil pula dari kalangan salaf bahwasanya mereka melaksanakan shalat sunnah di malam tersebut. Maka shalatnya seorang laki-laki di malam tersebut telah ada contoh dari kalangan salaf, dan ia memiliki hujjah untuk melakukan itu dan tidak boleh diingkari. Sedangkan jika shalat dilaksanakan bersama-sama, maka hal itu berdiri di atas kaidah umum berkenaan dengan anjuran berkumpul dalam rangka ketaatan dan ibadah.”
Adapun tentang keutamaan Bulan Sya’ban dan khususnya Nishfu Sya’ban terdapat dalam beberapa hadist:
Pertama, diampuninya dosa. Dari Mu’adz radhiyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alayhi wasallam :
: ” يَطَّلِعُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى خَلْقِهِ فِي اللَّيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَيَغْفِرُ لِجَمِيْعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ ”
“Allaah Ta’ala memandang kepada makhluq-Nya pada malam nishfu sya’ban dan mengampuni seluruh dosa makhluq-Nya kecuali mereka yang musyrik dan dengki.” (HR. At-Thabrani, di dalam Mu’jam Al-Kabir [20/189], dan Abu Nu’aim [5/195])
Hadist ini dinilai hasan oleh banyak ulama hadist karena beragamnya jalur periwatan. Bahkan dishahihkan oleh Imam Ibn Hibban, dan berkata Imam Al-Haitsami di dalam Al-Majma’ [8/126] : Hadits ini diriwayatkan oleh At-Thabrani di dalam Al-Kabir dan Al-Awsath, dan para perawi nya tsiqah.
Kedua, dikabulkannya do’a. Dalam dalam Kitab Al Umm juz 1 halaman 231 beliu menyatakan:
( قَالَ الشَّافِعِيُّ ) وَبَلَغَنَا أَنَّهُ كَانَ يُقَالُ إنَّ الدُّعَاءَ يُسْتَجَابُ فِيْ خَمْسِ لَيَالٍ فِيْ لَيْلَةِ الْجُمُعَةِ وَلَيْلَةِ الْأَضْحَى وَلَيْلَةِ الْفِطْرِ وَأَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبٍ وَلَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ
Imam Syafi’i berkata: Telah sampai kepada kami bahwa doa dikabulkan dalam lima malam, yaitu: Malam Jumat- Malam Al Adha- Malam Al Fithri- Malam awal Rajab- Malam Nishfu Sya’ban.
Terdapat dalam Kitab Nuz_hatul Majalis, lishshofuuri, juz 1 halaman 165 :
قَالَ عَطَاءُ بْنُ يَسَارٍ مَا بَعْدَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ أَفْضَلُ مِنْ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ وَهِىَ مِنَ اللَّيَالِى الَّتِيْ يُسْتَجَابُ فِيْهَا الدُّعَاءُ
Atha` bin Yasaar berkata : Tidak ada malam yang lebih utama setelah Lailatul Qadar dibandingkan dengan malam Nishfu Sya’ban. Ia merupakan salah satu malam yang mustajab berdoa didalamnya.
Ketiga, diangakatnya amalan-amalan dalam setahun ke langit. Namun hadits ini tidak secara spesifik menyebutkan bahwa hal itu terjadi pada malam nishfu sya’ban.
Dari Usamah bin Zaid. Ia pernah menanyakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ia tidak pernah melihat beliau melakukan puasa yang lebih semangat daripada puasa Sya’ban. Kemudian Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
“Bulan Sya’ban –bulan antara Rajab dan Ramadhan- adalah bulan di saat manusia lalai. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan.” (HR. An-Nasa’i no. 2359). Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan.
Keempat, dianjurkan memperbanyak puasa. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,
فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ
“Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156)
عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ عَائِشَةَ حَدَّثَتْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَكُنْ يَصُومُ مِنْ شَهْرٍ مِنَ السَّنَةِ أَكْثَرَ مِنْ صِيَامِهِ مِنْ شَعْبَانَ فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ
“Dari Abu Salamah bin Abdurrahman, bahwa ‘Aisyah ra menceritakan kepadanya, bahwa Nabi saw tidak berpuasa pada bulan dalam setahun lebih banyak dari puasa beliau pada bulan Sya’ban. Rasulallah saw berpuasa sebulan penuh pada bulan Sya’ban (H.R. al-Bukhari No. 1970, Muslim No. 1156, Ahmad No. 24967, 25101).”
Namun demikian ada sebagian kaum muslimin tidak menjadikan amaliah di malam Nisfu Sya’ban karena menilai hadits-hadist yang berkaitan dengannya dipandang dlaif (lemah).












































