“Momentum Memasuki Tahun Baru”
Oleh. Ust.Lathief Abdallah*
(Pengasuh Pondok baitul Hamdi)
REAKSINEWS.COM || Tahun 2025 M sudah dipenghujung akhir akan mememasuki tahun baru 2026 M. Pergantian tahun tidak bisa dihindari, tak bisa diputar ulang. Ia bagian dari sunatullah. Namun bisa dijadikan momentum untuk kita renungkan:
Pertama, masuknya tahun baru merupakan nikmat yang harus kita syukuri karena Allah telah memanjangkan usia kita.
Tak terhitung nikmat yang telah kita terima di antaranya nikmat diberinya usia hingga kita masih berada dipenghujung akhir 2025, dan semoga masih bisa menghirup udara di tahun 2026. Betapa banyak saudara kita yang tidak bisa hadir ditengah-tengah kita karena telah medahului kita.
Syukur atas nimat berarti secara lisan mengakui nikmat yang diterima dan memuji pemberi nikmat yakni Allah SWT. Hati mencintai Allah Sang Maha Pemberi nikmat, dan nikmat itu digunakan dalam rangka ketaatan kepada-Nya.
Ibnul Qayyim berkata;
وَالشُّكْرُ ظُهُورُ أَثَرِ نِعْمَةِ اللَّهِ عَلَى لِسَانِ عَبْدِهِ: ثَنَاءً وَاعْتِرَافًا. وَعَلَى قَلْبِهِ: شُهُودًا وَمَحَبَّةً. وَعَلَى جَوَارِحِهِ: انْقِيَادًا وَطَاعَةً
“Syukur adalah menampakkan adanya nikmat Allah pada dirinya baik melalui lisannya yaitu pujian dan pengakuan (bahwa ia telah diberi nikmat). Dengan hatinya, berupa persaksian dan kecintaan (kepada Allah Maha Pemberi nikmat). Dengan anggota badan, berupa kepatuhan dan ketaatan (kepada syariat Allah)” (Madarijus Salikin, 2/244). (Madarijus Salikin, 2/244).
Jika kita mampu bersyukur atas nikmat yang diterima maka Allah SWT akan memberikan tambahan nikmat berupa keberkahan.
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS.Ibrahim ayat 7)
Kedua, masuknya tahun baru harus dapat menyadarkan kita akan semakin bertambahnya umur kita dan itu berarti semakin dekatnya kita kepada kematian.
Kita seakan mengejar kehidupan tanpa henti padalah kita dikejar kematian secara pasti. Kematian akan menimpa siapapun. Kematian, siapapun tak bisa berlari dan bersembunyi darinya.
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Dan Kami akan menguji kamu dengan keburukan serta kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kamilah kamu akan dikembalikan. – (Q.S Al-Anbiya: 35)
قُلۡ اِنَّ الۡمَوۡتَ الَّذِىۡ تَفِرُّوۡنَ مِنۡهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيۡكُمۡ ثُمَّ تُرَدُّوۡنَ اِلٰى عٰلِمِ الۡغَيۡبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمۡ بِمَا كُنۡتُمۡ تَعۡمَلُوۡنَ
Artinya: Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui ⁸yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al-Jumu’ah Ayat 8)
Orang yang cerdas akan menjadikan hidupnya di dunia sebagai bekal kematian.
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا، وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلّ
Orang yang cerdas ialah orang yang selalu mengevaluasi dirinya serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Orang yang lemah (bodoh) ialah orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan kepada Allah subhanahu wa ta’ala (HR at-Tirmidzi).
Ketiga. Masuknya tahun baru merupakan momentum untuk intropeksi, muhasabah, melakukan perhitungan atau evaluasi, baik terhadap diri maupun umat.
يأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ إِنّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Hasyr: 18)
Maka hendaklah diri kita masing-masing mengevalusi kebaikan yang sudah dilakukan dan yang belum dilaksanakan. Dosa apa yang belum tingalkan dan kemaksiatan apa yang masih dibiasakan. Umar bin al-Khaththab ra, berkata;
حَاسِبُوْا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا، وَزِنُوْا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوْزَنُوْا فَإِنَّهُ أَهْوَنُ عَلَيْكُمْ فِي الْحِسَابِ غَدّاً
Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Timbanglah amal kalian sebelum ditimbang. Hal itu akan lebih memudahkan hisab kalian kelak (di akhirat) (Abu Nuaim al-Asbahani, Hilyah al-Awliyâ, 1/25).
Setiap orang yang berfikir sehat akan selalu bergerak menuju hal yang lebih baik dan lebih baik
مَنْ كَانَ يَوْمُهُ خَيْرًا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ رَابِحٌ. وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ مِثْلَ أَمْسِهِ فَهُوَ مَغْبُونٌ. وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ شَرًّا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ مَلْعُونٌ. (رَوَاهُ الْحَاكِمُ)
“Barang siapa hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang beruntung, Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin dialah tergolong orang yang merugi dan Barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dialah tergolong orang yang celaka.” (HR. Al Hakim).
Keempat. Bergantinya tahun hendaklah diisi dengan amal yang berkualitas dan berkelanjutan.
Umur kita memang terukur oleh waktu oleh terbatasi masa. Namun kita bisa mengisinya dengan amal yang berpahala tak terukur dan tak terbatas. Shalat selalu berjamaah, rajin silaturahmi dan berdakwah, mendidik anak menjadi salih dan salihah, berinfak dan bersadaqah jariyah. Adalah di antara bentuk amal yang bernilai besar bahkan pahalanya mengalir hingga setelah mati. Rasulullah SAW bersabda,
إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ أَوْ بَيْتًا لاِبْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ
“Sesungguhnya di antara amalan dan kebaikan seorang mukmin yang akan menemuinya setelah kematiannya adalah: ilmu yang diajarkan dan disebarkannya, anak shalih yang ditinggalkannya, mush-haf yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah untuk ibnu sabil yang dibangunnya, sungai (air) yang dialirkannya untuk umum, atau shadaqah yang dikeluarkannya dari hartanya diwaktu sehat dan semasa hidupnya, semua ini akan menemuinya setelah dia meninggal dunia”.(HR. Ibnu Majah)
Berharap pergantian tahun ini, baik sacara pribadi maupun keumatan, menjadi momen perubahan menuju yang lebih baik.












































