Peduli Atas Korban Musibah
Oleh: Ust. Lathief Abdallah (Pengasuh Pondok Baitul Hamdi)
REAKSINEWS.COM || Musibah besar kembali ‘menyapa’. Di penghujung tahun 2025, Aceh – Sumatera tenggelam dalam lautan air disebabkan banjir yang sangat besar. Ada yang menyebut, setelah tsunami pertama di Aceh tahun 2004, bencana banjir kali ini seakan tsunami ke dua, bahkan berdampak lebih besar.
Sajak 26 November bencana banjir besar menimpa setelah diguyur hujan 3 hari beturut turut. Informasi sementara dari media per 8 Desember 2025 Melaporkan Korban meninggal dunia: 940 jiwa, korban hilang 276 jiwa, korban luka c 2.600 jiwa, jumlah pengungsi: 582.500 jiwa, dan kerugian matererial 68 T
Atas musibah tersebut, marilah kita ucapkan do,a istirj’a.
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أجُرْهم فِي مُصِيْبَتهم، وأخْلُفْ لَهُمْ خَيْراً مِنْهَا
Sesungguhnya kami milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Ya Allah berilah pahala atas musibah yang menimpa saudara kami di Aceh dan Di Sumatera. Gantilah mushibah itu untuk mereka dengan sesuatu yang lebih baik. Berilah mereka kekuatkan, kesabaran, ketabahan dan ketawakalan. Mereka korban meninggal dunia semoga wafat dalam rida dan rahmat Allah SWT. Merke yang korban luka segera disembukan sediakala. Harta yang hilang semoga diganti dengan yang lebih baik.
Islam mengajarkan kepada umatnya ihtimam yakni rasa peduli, care kepada sesama. Ihtimam, kepedulian mesti menjadi bagian karakter seorang muslim. Dalam sebuah hadist masyhur disebutkan,
مَن لَمْ يهتَمَّ بأمرِ المُسلِمينَ فليس منهم
“Barangsiapa yang tidak memperhatikan urusan kaum Muslimin, maka dia bukan golongan mereka” (HR.Thabrani).
Islam juga menekankan untuk peduli terhadap sesama. Terhadap lingkungan, tetangga, negara bahkan dunia. Sebuah hadits menyatakan dengan tegas;
مَا آمَنَ بِى مَنْ بَاتَ شَبْعَان وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ وَهُوَ يَعْلَمُ
“Tidaklah beriman kepadaku orang yang tidur dalam keadaan kenyang, sementara tetangga di sampingnya dalam keadaan lapar, padahal dia mengetahuinya.” (HR. At-Thabrani dan Al-Bazzar).
Begitu juga Islam mengajarkan nilai kemanusiaan (insaniah). Menyelamatkan satu nyawa manusia apapun agama, suku dan bangsanya sama dengan menyalamatkan semua manusia.
وَمَنْ اَحْيَاهَا فَكَاَنَّمَاۤ اَحْيَا النَّاسَ جَمِيْعًا ۗ
“… Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya…” (QS. Al-Maidah: 32)
Berdo’a kebaikan untuk mereka yang mendapat musibah, berdonasi dengan harta, menjadi relawan di lapangan dsb, adalah wujud dari kepedulian.
Orang yang membantu menyelesaikan permasalahan saudaranya, mencarikan solusi atas problemnya, meringankan beban berat yang dideritanya sungguh akan meraih pahala luar biasa besar! Nabi SAW, bersabda;
لَأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِي فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا
“Berjalan bersama seorang saudara untuk memenuhi kebutuhannya lebih aku sukai daripada beri’tikaf di masjid ini (Masjid Nabawi) selama sebulan.” (HR. Ibnu Majah dan Al-Bazzar).
Sungguh aneh, bila ada seorang bupati menyatakan “menyerah’ dan tidak mampu mengurus rakyatnya yang sedang menederita akibat banjir besar. Kemudian dia pergi umrah dengan keluarganya. Suatu sikap tidak tanggungjawab atas kepemimpinan dan keawaman atas agama. Bukankah umrah bisa kapan aja?
Uniknya Islam memandang muslim yang paling baik dan yang paling dicintai Allah itu bukan hanya pada ragam dan banyak ritual ibadahnya tapi yang peduli di kehidupan sosialnya. Sebagaimana disebut oleh Nabi SAW;
أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ , وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ
“Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia..” (HR. Thabrani)
Bahkan seorang dianggap berdusta dalam agamanya; getol shalatnya, rajin ngaji, berulang hajinya dianggap dusta bila tidak peduli pada sesamanya. Lebih lagi bila ia seorang pejabat negara yang seharus membuat kebijakan untuk mensejahterakan rakyatnya. Namun justru membuat kebijakan yang menyengasarakan rakyatnya, mencuri hak rakyatnya mereka pejabat dusta dan jahat.
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ
وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ
Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. (QS. Almaun 1-3.)
Berbagai musibah mengakibatkan penderitaan dan kesengsaraan yang panjang bagi saudara-saudara kita. Akibat banjir, longsor seperti yang terjadi di Aceh dan Sumatera. Juga termasuk musibah karena penjajahan seperti di Gaza dan akibat perang saudara di Sudan karena diprovokasi asing. Mereka kelaparan, kedinginan, kehilangan sanak saudara, kehilangan rumah, sawah dan ladang.
Semoga kita diberi kemampuan untuk membantu mereka denga tenaga, harta maupun do’a.
وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ
“Allah senantiasa menolong seorang hamba selama ia maubmenolong saudaranya.” (HR. Muslim)











































