REAKSINEWS.COM || Perundungan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, perundungan berasal dari kata rundung atau merundung yang berarti menganggu; mengusik terus-menerus; menyusahkan. Lalu, diartikan juga dengan menyakiti orang lain–baik secara fisik maupun psikis, dalam bentuk kekerasan verbal, sosial, atau fisik berulang kali dan dari waktu ke waktu. Perundungan atau saat ini disebut bullying yang berasal dari bahasa Inggris, yaitu bull yang memiliki pengertian “banteng yang senang menanduk dan menyerunduk.
Perundungan (bullying) di kalangan anak dan remaja kini menjadi fenomena. Di balik kemajuan teknologi dan pendidikan, justru tumbuh budaya kekerasan secara fisik, psikis, maupun digital yang diam-diam melukai generasi. Banyak anak kehilangan rasa aman bahkan di tempat pendidikan, ruang yang seharusnya paling melindungi mereka
Baru- baru ini, seorang siswi MTs di Sukabumi ditemukan gantung diri di rumahnya setelah merasa tak tahan atas bullian dari teman- teman sekelasnya. Kejadian yang sama seorang mahasiswa Universitas Udayana Bandung bunuh diri diduga akibat tidak tahan merima bullian dari rekan-rekannya. Viral dalam video di SMP Blora Jawa tengah seorang siswa dipukuli sambil ditonton dan diejek oleh teman-temannya. Hal yang sama terjadi diSMPN 8 Depok, dan SMAN 72 Jakarta. Semua itu memperlihatkan bahwa perundungan bukan sekadar kenakalan remaja, melainkan krisis sosial yang mengancam masa depan anak Indonesia.
Data KPAI menunjukkan sepanjang 2024 terdapat 2.057 pengaduan pelanggaran hak anak, mencakup kekerasan fisik, psikis, dan cyberbullying, serta 25 kasus bunuh diri anak pada 2025 yang diduga terkait depresi akibat perundungan.
Dalam Islam perilaku perundungan atau bully baik dengan verbal atau fisik dilarang keras, dinggap perbuatan tercela dan termasuk dosa besar.
Allah SWT berfirman;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.
وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim (QS al-Hujurat: 11).
Ayat tersebut melarang setiap bentuk penghinaan karena perbuatan tersebut mengandung unsur; merendahkan orang lain (ashukhru), mengejek dan mengolok-olok (al lamz), memanggil orang dengan sebutan penghinaan (tanabuz bil alqab). Bila perundungan dengan verbal dilarang keras terlebih lagi jika dilakukan dengan fisik, pelakunya akan mendapatakan sanksi tegas.
سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ
“Mencela seorang muslim merupakan kefasikan dan membunuhnya merupakan kekufuran.” (HR. Bukhari Muslim)
Perilaku menghina orang lain juga tersmasuk bentuk kesombongan, dan orang sombong tidak akan masuk surga. Berdasarkan sabda Rasulullah SAW:
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
Sombong adalah sikap menolak kebenaran dan meremehkan manusia (HR Muslim).
لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْر
“Tidak masuk surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan walau seberat biji sawi dalam hatinya.” (HR. Bukhari Muslim).
Perundungan atau bullying merupakan perilaku agresif, baik berupa kekerasan fisik seperti memukul, menampar, memalak, menendang, dan membuat gerakan kasar lainnya, atau kekerasan verbal seperti menghina, memanggil dengan panggilan buruk, menebar gosip, menuduh, dan sebagainya, maupun psikologis, seperti mengucilkan, menatap sinis, mempermalukan di depan umum, dan sebagainya. Tentu prilaku tersebut dapat menyakiti orang lain baik secara fisik maupun psikis. Padahal ciri seorang muslim adalah mampu memberi nyaman kepada sesamanya baik dari lisannya ataupun perbuatnya.
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
“Seorang muslim adalah orang yang Kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya, dan seorang Muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah” (HR. Bukhari Muslim)
Islam menegaskan bahwa kemuliaan bukan diukur dari materi, tetapi dari ketakwaan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ
“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”(QS al-Hujurât [49]: 13).
Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam juga bersabda:
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لا يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَامِكُمْ وَلا إِلَى أَحْسَابِكُمْ وَلا إِلَى أَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ
”Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla tidak memandang fisik, keturunan dan harta kalian. Akan tetapi, Allah memandang kalbu (ketakwaan) kalian.”(HR ath-Thabarani).
Oleh karena itu tidak layak seorang muslim membully sesamanya, justru harusnya saling mencintai, saling melindungi karena muslim dengan muslim lainya adalah saudara.











































