REAKSINEWS.COM || Seorang pakar sosiologis Naval War College US Thom Nichols menulis sebuah buku berjudul “The Death Of Expertise”, buku ini merupakan hasil analisis Thom terhadap kondisi masyarakat Amerika yang cenderung menolak pendapat ahli kemudian menyebarkan informasi tidak jelas karena berasal dari seseorang yang bukan ahli.
Fenomena tersebut bukan hanya terjadi di Amerika tentunya, tapi juga bisa kita temukan di Indonesia karena di era sosial media seseorang akan mudah sekali menemukan dan menyebarkan informasi, kemudahan itu membuat batas informasi yang disebarkan kabur bahkan tak memiliki batas.
Kondisi itu membuat orang-orang merasa berhak memberikan komentar atas informasi yang diterima bahkan menolak tanpa melakukan analisis, sekalipun itu pendapat seorang ahli.
Lebih parah lagi, bukan hanya menolak pendapat ahli tapi menyebarkan dan membanggakan kedunguan.
Tahun 2020-2021 misalnya, ketika terjadi pandemi yang disebabkan oleh Virus Covid-19. Kebenaran tentang covid yang disepakati para ahli di bidang kesehatan ini ditentang oleh beberapa orang dengan alasan yang tidak ilmiah.
Masih banyak contoh yang bisa kita temukan di sosial media, seseorang yang bukan ahli agama mendebat ahli agama dan mengeluarkan fatwa misalnya, atau seorang ahli hukum dibantah oleh seseorang yang bukan ahli di bidang hukum.
Thom Nichols mengatakan dalam bukunya “Di era sosial media ini banyak orang yang goblok tanpa sadar dirinya goblok”.
Lantas apa penyebab kondisi itu terjadi ?, Dunning dan Kruger bilang : banyak orang di sosial media yang tidak tahu apa-apa justru merasa paling pakar, kenapa ?.
Karena isi pengetauan mereka masih sangat minim, kondisi ini selarasa dengan pribahasa “tong kosong nyaring bunyinya”.
Mungkin saya atau teman-teman yang sedang membaca adalah salah satu dari orang-orang yang sok ahli itu, mari kita lakukan refleksi terlebih dahulu, telaah diri kita lebih jauh dan lakukan auto kritik.
Apa solusi dari masalah diatas?, Tom Nichols memberikan saran agar kita melakukan analisis untuk menermukan informasi yang berimbang, bukan hanya mengedepankan naluri dan merasa pendapat kita paling benar. Kita juga bisa memperbaiki pola berpikir dengan memperbanyak bacaan, agar mampu memahami kompleksitas sebuah ilmu pengetahuan.
Selanjutnya tinggal apakah kita mau memperbaiki masalah itu atau tidak.












































