ReaksiNews.com || Sukabumi – Mentari sore belum sepenuhnya tenggelam saat puluhan mahasiswa mulai berdatangan ke Plaza Dakwah. Satu per satu mereka mengambil tempat, menyatukan semangat dalam ruang dialektika terbuka :
“Rekonstruksi Paradigma Kesadaran Mahasiswa Demi Terciptanya Iklim Perguruan Tinggi yang Berkualitas di Era Digital.”
Acara ini digagas oleh para aktivis mahasiswa dari berbagai organisasi kampus, yakni HMI, PMII, HIMA Persis, dan DEMA Institut Madani Nusantara. Lebih dari sekadar diskusi, forum ini menjadi panggilan zaman—sebuah ajakan untuk menyadari kembali siapa sejatinya mahasiswa di tengah era digital yang serba cepat namun seringkali melunturkan makna.
Dua sosok akademisi menjadi pemantik utama dalam diskusi ini:
Dr. H. Dadang Sahroni, M.Pd,
Prof. Dr. H. Asep Deni, M.M., CCM., CBA
Keduanya bukan hanya berteori di ruang kelas, tetapi turut merasakan denyut nadi dinamika pendidikan dan pergerakan mahasiswa dari waktu ke waktu.
“Era digital adalah pisau bermata dua. Ia bisa menjadi alat pencerdas, atau justru pencabut kesadaran,” ujar Dr. Dadang Sahroni membuka paparannya.
Ia menegaskan bahwa mahasiswa tak cukup hanya melek teknologi, tapi harus punya kedalaman berpikir, kepekaan sosial, dan kemauan untuk bertindak.
Prof. Asep Deni pun turut menggugah:
“Mahasiswa adalah tulang punggung perubahan. Bila kesadarannya tumpul, maka perguruan tinggi hanya akan menjadi pabrik ijazah. Tapi jika tajam, maka kampus akan jadi pusat peradaban.”
Diskusi berkembang hangat saat para peserta mulai mengajukan pertanyaan yang menggugah. Bukan sekadar formalitas, tapi keresahan nyata.
Seorang peserta membuka sesi dengan pertanyaan tajam terkait kebijakan sepihak rektor yang mengeluarkan mahasiswa tanpa kejelasan alasan.
Pertanyaan ini disambut oleh Prof. Asep Deni, yang menjawab dengan gamblang, menegaskan pentingnya transparansi, keadilan, dan ruang kontrol publik dalam dunia kampus.
Nur Afifah, salah satu perwakilan mahasiswa, juga menyampaikan pandangannya:
“Kesadaran baru ini harus dibangun dari komunitas terkecil. Mulai dari diri sendiri, lingkungan terdekat, lalu mengalir menjadi arus besar perubahan.”
Pemateri pun menegaskan:
“Kritis bukan berarti oposisi. Aktif bukan berarti anarkis. Kita butuh mahasiswa yang sadar, peduli, dan paham konteks zaman.”
Forum ini menggarisbawahi satu hal penting: kampus bukan hanya tempat belajar teori, melainkan laboratorium sosial tempat mahasiswa mengasah kepekaan, karakter, dan tanggung jawabnya sebagai generasi penerus bangsa.
Diskusi ini bukan hanya membongkar realita, tapi juga membangun harapan. Harapan bahwa mahasiswa hari ini masih punya keberanian untuk bertanya, berpikir, dan bergerak.
Menjelang akhir diskusi, Muhammad Zaki, sang moderator, memberikan sebuah penegasan yang menggema ke seluruh penjuru Plaza Dakwah.
“Hari ini kita tidak hanya berdiskusi, kita sedang membangun kesadaran baru. Sebab perubahan besar tidak dimulai dari massa yang bising, tapi dari pikiran-pikiran yang jernih dan keberanian untuk bergerak.”
Ia menambahkan bahwa mahasiswa tidak perlu menunggu momen revolusioner untuk bertindak. Justru dari forum sederhana seperti ini, api perubahan bisa dinyalakan.
“Kampus bukan sekadar tempat duduk di ruang kelas. Ia adalah ruang perjuangan intelektual. Dan mahasiswa, di era apa pun, tetap punya peran: menjadi suara kebenaran, menjadi nurani masyarakat, dan menjadi pembawa harapan.”
Dengan itu, diskusi publik ini bukan hanya ditutup dengan tepuk tangan, tapi juga dengan tekad baru: bahwa kesadaran yang direkonstruksi hari ini akan menjadi fondasi peradaban esok.
(Tim)











































