REAKSINEWS.COM || Pada dasarnya entrepreneurship merupakan proses memulai mengelola bisnis dengan cara inovatif dan kreatif untuk bagaimana menghasilkan produk dan layanan bagi orang lain.
Pemuda di era sekarang sangat memerlukan dan sudah seharusnya jiwa entrepreneurship hadir dalam dirinya untuk memudahkan mencapai segala kebutuhan secara khusus, dan juga bagian dari cita-cita Indonesia dalam mengurangi kemiskinan dan sebagainya.
Kebiasaan aktivis modern saat ini tidak independen dalam menjalankan organisasi maupun secara individu, karena bergantung pada orang lain. Sehingga Kreativitas menghasilkan uang sangat rendah dan instan, hingga kelamaan menjadi sebuah kultur dalam diri sendiri dan penghuni organisasi tersebut.
Lebih khususnya lagi dalam lingkup HMI sebagai organisasi mahasiswa Islam yang secara eksistensi sudah tak diragukan lagi, namun kemandirian secara finansial merupakan faktor besar dan hanya mengandalkan arahan kepada ‘Kakanda/Ayunda’. Sehingga mengakibatkan Kader terbiasa tidak independen. Ikut training pun, goals untuk pribadi masih saja belum jelas.
Sesungguhnya setiap orang memiliki goals kehidupan, mengikuti training dan berproses di organisasi pun pasti memiliki goals, namun goals pribadi seharusnya tetap ada dan penting di luar dari kepentingan kelompok. Untuk mencapai goals, kita harus belajar membentuk price (harga), dengan metode bisa memetakan kepentingan organisasi, kelompok dan pribadi. Sehingga bisa memenuhi kepentingan ketiganya dan kapan kita harus berada dalam mengatur waktu kepentingan.
Selain itu, penting seluruh kader HMI lahir penyadaran dalam memahami lima tingkatan kebutuhan pribadi. Dimulai dengan capaian *fisiologi* (kebutuhan sandang, pangan, papan, bahkan seks) yang merupakan hal utama yang mesti dicapai pada usia 40 tahun maksimal.
Lalu ketika telah mencapainya maka tingkat kedua kita akan mengalami *keamanan* dan *rasa sayang* dari keluarga dan kerabat, hingga sampai pada *penghargaan* dari banyak orang atau kelompok, dan terakhir ialah sampai pada *aktualisasi diri*.
Pohon ekonomi pribadi ternyata kalau dilihat kembali, mulai dari sejak diri kita lahir kemudian bersekolah sampai Sekolah Menengah Atas (SMA), terus melanjutkan pendidikan kuliah, lalu berbisnis atau bekerja, menikah, punya rumah, memiliki anak dan seterusnya sampai pada wasiat.
Semua membutuhkan finansial yang mesti terkoordinasi dengan baik, kesiapan diri dalam menghadapi siklus kehidupan yang tidak lepas dari uang sebagai kebutuhan pokok.
Hidup perlu menantang, tidak bisa biasa-biasa saja atau menjadi begitu-begitu saja. Sehingga visi kehidupan harus diimplementasikan dengan baik, ada lima visi *SMART* (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, and Time-bound). *Specific* bermakna untuk bagaimana tujuan yang dibuat harus jelas dan detail. Measurable dengan tujuan kita harus terukur (kuantitatif).
Lalu *Achievable* mengajarkan tujuan yang dituju harus realistis dan dapat dicapai. Kemudian *Relevant* dengan fokus dengan basic diri dari awal dan terakhir ialah membuat *Time-bound* untuk waktu yang jelas dalam mencapai sesuatu.
“Anak muda urat malumu jangan terlalu kencang, apa lagi serba gengsi. Kenapa takut malu padahal kamu tidak merugikan orang, justru stok malunya dihabiskan di masa muda aja supaya ketika sudah tua dan berkuasa tidak malu-maluin”, begitulah yang diucapkan oleh Najwa Shihab yang merupakan kalimat motivasi dan menantang bagi anak muda modern saat ini.
Olehnya itu kita semua mesti sama-sama menyadari dan mengimplementasikan dengan baik, agar masa muda dihabiskan dengan kepusingan tapi menghasilkan. Sesungguhnya untuk memulai usaha adalah hal sulit dan yang paling sulit ialah ketika bisa mampu mempertahankan usaha kita.
Yakinkan dengan iman, Usahakan dengan ilmu, sampaikan dengan amal. YAKIN USAHA SAMPAI.
Sumber : Ita Rosita (Peserta LK III HMI Badko Jawa Barat)












































