Penulis: Nana Sofyan
Korwil Reaksi News
Kenapa hutan harus dibakar?
REAKSINEWS.COM || Pertanyaan sederhana ini kembali menyeruak, ketika langit di Sumatra dan Pasuruan tidak lagi biru, melainkan kuning keabu-abuan. Asap pekat menggantung, menyusup ke rumah-rumah, ke paru-paru anak-anak, ke ruang-ruang kelas yang akhirnya harus diliburkan. Jarak pandang hanya beberapa meter. Nafas pun terasa berat.
Semua ini terjadi bukan karena alam murka. Tapi karena keserakahan manusia.
Kita semua tahu polanya. Membuka lahan dengan cara dibakar adalah cara paling murah, paling cepat, dan paling licik. Tak perlu modal besar untuk alat berat, tak perlu pusing soal perizinan. Cukup satu korek api, maka ribuan hektare hutan bisa rata dalam semalam. Haram, dilarang undang-undang, tapi terus dilakukan karena cuan nya tidak main-main.
Hari ini hutan dibakar, besoknya sudah berubah menjadi hamparan sawit yang rapi. Hutan yang menjadi paru-paru dunia, ditukar dengan pundi-pundi keuntungan pribadi.
Lalu siapa yang bertanggung jawab?
Jangan hanya menunjuk ke satu pihak. Ini adalah kejahatan yang terorganisir. Ada korporasi dan cukong di level atas yang menjadi otak dan penikmat utama. Ada oknum yang bermain mata, yang membuat laporan menjadi kabur dan hukum menjadi tumpul. Dan ada negara yang seharusnya hadir sebagai penjaga, namun seringkali hanya hadir sebagai pemadam, bukan pencegah.
Dan kenapa penanganannya terkesan begitu lambat?
Karena kita menghadapi masalah yang sengaja dibuat rumit. Pertama, personel dan alat kita tidak pernah sebanding dengan luasnya hutan yang terbakar. Kedua, ada drama klasik lempar tanggung jawab antara pusat dan daerah. Ini hutan negara, itu kewenangan provinsi. Sementara api terus menjalar.
Ketiga, dan ini yang paling menyakitkan, penegakan hukum kita tidak pernah menyentuh aktor utamanya. Yang ditangkap dan dipajang di depan kamera seringkali hanya pekerja lapangan. Sementara pemilik modal, sang pemberi perintah, tetap aman dan bahkan sedang menghitung keuntungan.
Keempat, kita tidak bisa menutup mata bahwa bisnis lahan ini beririsan dengan kekuasaan. Ketika bisnis dan politik berpelukan mesra, maka hukum akan dengan mudah masuk angin.
Jika cara kita masih sama, memadamkan api tanpa memadamkan niat serakah di baliknya, maka percayalah, tahun depan kita akan kembali menulis artikel yang sama. Dengan judul yang sama. Dan dengan asap yang mungkin lebih pekat.
Sudah saatnya kita berhenti menyuruh rakyat memakai masker dan berdoa menunggu hujan. Negara harus berani mencabut izin korporasi pembakar, memenjarakan aktor intelektualnya, dan membuka seterang-terangnya kepada publik siapa pemilik lahan yang telah membakar negeri ini demi keuntungan pribadi.
Karena hutan yang hilang hari ini, adalah oksigen anak cucu kita yang hilang di masa depan.




































