REAKSINEWS.COM || Memasuki dunia perguruan tinggi di Universitas Madani Nusantara (UMN) menjadi pengalaman baru bagi Abu Wardan Ababil Ibnu Aqiel, yang akrab dipanggil Escobar. Sebagai mahasiswa yang baru memasuki lingkungan kampus, ia menghadapi proses adaptasi terhadap sistem akademik sekaligus mulai membangun relasi sosial dan mengenal berbagai lingkungan kemahasiswaan.
Pada awal perkuliahan, Abu Wardan mengaku belum banyak mengenal mahasiswa maupun memahami dinamika kehidupan kampus. Proses adaptasi tersebut kemudian membawanya berinteraksi dengan sejumlah mahasiswa hingga akhirnya mengenal Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) melalui sekretariat organisasi tersebut.
Pertemuan awal dengan teman-teman HMI memberikan kesan positif bagi Abu Wardan. Ia mendapatkan sambutan yang ramah dan terbuka meskipun sebelumnya belum saling mengenal secara dekat. Interaksi tersebut membuatnya merasa lebih mudah beradaptasi dan mulai menemukan lingkungan baru di luar ruang perkuliahan.
Seiring berjalannya waktu, Abu Wardan semakin sering berinteraksi dengan mahasiswa di lingkungan HMI. Ia bertemu dengan berbagai karakter, pengalaman, dan pemikiran yang berbeda. Dari proses tersebut, ia mulai memahami bahwa kehidupan mahasiswa tidak hanya berkaitan dengan aktivitas akademik, tetapi juga mencakup organisasi, diskusi, hubungan sosial, dan pengembangan diri.
Di lingkungan HMI, Abu Wardan mendapatkan berbagai dorongan untuk meningkatkan kapasitas dirinya. Ia didorong untuk tidak hanya mengikuti kegiatan perkuliahan, tetapi juga membangun kebiasaan membaca, berdiskusi, berpikir kritis, serta berani menyampaikan pendapat. Bimbingan dan motivasi tersebut secara perlahan membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan sebagai mahasiswa.
Selain mendapatkan pengalaman dalam berdiskusi, Abu Wardan mulai mengenal proses kaderisasi HMI. Ia diperkenalkan pada pentingnya menjadi kader yang tidak hanya aktif dalam organisasi, tetapi juga memiliki kemampuan intelektual, karakter, tanggung jawab, dan kemauan untuk terus belajar. Proses tersebut menjadi pengalaman baru yang memperluas pemahamannya mengenai kehidupan organisasi mahasiswa.
Sekretariat HMI kemudian menjadi salah satu ruang pembelajaran nonformal bagi Abu Wardan. Berbagai percakapan dan diskusi mengenai kehidupan mahasiswa, organisasi, persoalan sosial, hingga pengembangan diri menjadi bagian dari proses belajarnya. Dari interaksi tersebut, ia belajar memahami perbedaan sudut pandang dan melihat perbedaan sebagai bagian dari proses memperluas wawasan.
Pengalaman tersebut juga memberikan pemahaman kepada Abu Wardan mengenai pentingnya lingkungan dalam proses pembentukan diri. Menurutnya, lingkungan yang memberikan motivasi, bimbingan, dan ruang untuk berdiskusi dapat membantu mahasiswa mengembangkan kemampuan intelektual maupun sosial. Menjadi mahasiswa, baginya, tidak cukup hanya dengan mengejar nilai akademik, tetapi juga perlu membangun kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, berpikir kritis, dan memahami persoalan masyarakat.
Pertemuannya dengan teman-teman HMI menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan awal Abu Wardan di UMN. Dari lingkungan tersebut, ia mendapatkan pengalaman, persahabatan, motivasi, dan arahan untuk terus berkembang. Ia menyadari bahwa perjalanan sebagai mahasiswa sekaligus kader masih panjang sehingga masih banyak hal yang perlu dipelajari, diperbaiki, dan dikembangkan.
Bagi Abu Wardan, perjalanan di UMN bersama HMI bukan sekadar pengalaman mengenal organisasi, tetapi menjadi bagian dari proses pembentukan dirinya. Ia berharap pengalaman yang diperoleh melalui perkuliahan, organisasi, diskusi, dan interaksi sosial dapat menjadi bekal untuk menjadi mahasiswa yang lebih baik, kader yang memiliki kapasitas, serta pribadi yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat. Baginya, pendidikan tidak berhenti di ruang kelas, tetapi terus berlangsung melalui setiap pertemuan, diskusi, nasihat, dan pengalaman yang membentuk seseorang menjadi lebih baik.
Penulis : Abu Wardan




































