Oleh: Ust. Lathief Abdallah(Pengasuh Pondok Baitul Hamdi)
KHUTBAH PERTAMA
إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنْجِيْ قَائِلَهَا مِنَ النَّارِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كَبِيْرًا وَصَبِيًّا.
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ، الصَّادِقِ الْأَمِيْنِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ حَسُنَ إِسْلَامُهُمْ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:
*قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًاۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ ٥٣ (اَلزُّمَرُ)*
Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di hari mulia, hari Jumat. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang yang insya Allah dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan alam Nabi Besar Muhammad saw.
Pertama dan paling utama, mari tingkatkan takwa kita kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Dalam kesempatan ini Khatib akan menyampaikan tema khutbah ;
“LGBT; DOSA BESAR DAN MEMBAHAYAKAN KEHIDUPAN MANUSIA”
Allah SWT berfirman;
اِنَّكُمْ لَتَأْتُوْنَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِّنْ دُوْنِ النِّسَاۤءِۗ بَلْ اَنْتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُوْنَ
”Sesungguhnya kalian mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsu kalian (kepada mereka), bukan kepada wanita. Bahkan kalian ini adalah kaum yang melampaui batas” QS. al-A’râf [7]: 81:
Ayat di atas menjelaskan kaom Sadom umat nabi Luth yang memiliki budaya penyimpangan yaitu homo seksual, menyukai sesama jenis. Dari kata Sadom itu kemudian dikenal istilah kata sodomi
Penyimpangan kaum Sadom dalam bahasa sekarang dengan ragam varian penyimpangan dikenal dengan sebutan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) yang akhir akhir ini kembali menjadi perbincangan hangat.
Di banyak negara Barat, LGBT dipandang sebagai bagian dari kebebasan individu dan hak asasi manusia. Pandangan ini lahir dari paham liberalisme yang mengutamakan kebebasan manusia, sehingga ukuran benar dan salah dianggap relatif selama tidak merugikan orang lain. Cara pandang seperti ini pun dinilai telah ikut memengaruhi sebagian masyarakat di Indonesia.
Media TV One sebelumnya mengabarkan bahwa para aktivis LGBT Se Asean akan mengadakan pertemuan di Jakarta 17-21 Juli 2026. Acara tersebut gagal karena mendapat respon penolakan keras dari MUI dan ormas Islam.
Wakil Ketua Umum MUI, KH M. Cholil Nafis, menilai belum adanya aturan khusus membuat penanganannya di daerah hanya sebatas pembinaan. Sanksi yang diberikan semestinya lebih berat daripada delik perzinaan karena dinilai mengandung dua pelanggaran sekaligus, yakni perbuatan asusila dan penyimpangan dari kodrat manusia. Pemerintah pun merespon segera menetapkan bahwa gerakan LGBT termasuk ancaman negara non militer.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Perilaku LGBT sering dibenarkan atas nama hak asasi manusia (HAM). Pendukungnya menganggap orientasi seksual adalah hak pribadi yang tidak boleh diatur oleh agama atau budaya. Bahkan, sejumlah negara Barat telah melegalkan pernikahan sesama jenis. Ini menunjukkan betapa liberalisme berkedok HAM telah menggeser standar moral masyarakat menuju kebebasan manusia tanpa batas.
LGBT bukan lagi penyimpangan individu tapi sudah menjadi gerakan, propaganda komunal, berbudaya dan berorganisasi. Baik tingkat lokal, nasional hingga internasional.
Data Kementerian Kesehatan tahun 2022 secara nasional mencatat sekitar 1.095.970 orang (0,44% penduduk) masuk kategori LGBT. Sedangkan di Jawa Barat diperkirakan mencapai 300.198 orang.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Selain bertentangan dengan syariat Islam, perilaku LGBT juga memiliki risiko kesehatan yang tinggi. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan sekitar 70–71% kasus baru HIV terjadi pada laki-laki, dengan kelompok laki-laki yang berhubungan seksual dengan sesama laki-laki termasuk yang berisiko paling tinggi. Tentu bila LGBT ini menjadi budaya dalam sebuah negara akan memutus mata rantai generasi manusia. Maka layak disebutkan LGBT mengancam kehidupan manusia.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Seorang Pendeta bernama Mell Atock mangatakm dalam sebuah canel YouTube, “Bersyukur Indonesia Mayoritas Islam, Jika Tidak, Perkawinan Sejenis Sudah Legal.
Mengapa demikian? Karena larangan keras Islam terhadap perilaku LGBT merupakan bagian dari penjagaan terhadap kehormatan, keturunan, dan kesehatan manusia.
Sejak awal islam melarang keras berprilaku menyerupai lawan jenis
لَعَنَ اللهُ المُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ، وَالمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ
“Allah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki.” (HR. Abu Dawud)
Islam melarang sarana, media atau apapun yang memberi peluang tersebarnya prilaku LGBT. Kaidah fikih menyebutkan,
اَلْوَسِيْلَةُ إِلَى الْحَرَامِ حَرَامٌ
“Segala perantara yang mengantarkan kepada yang haram, maka hukumnya haram”
Islam memberikan sanksi keras bagi pelaku sodomi yaitu hukuman mati.
مَنْ وَجَدْتُمُوْهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوْطٍ فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُوْلَ بِهِ
“Siapa saja di antara kalian yang mendapati orang yang melakukan perbuatan liwaath maka bunuhlah pelaku dan pasangannya”(HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi).
Karena itu penerapan syariat Islam dapat menuntaskan permasalah LGBT.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Sebesar apa pun dosa seseorang, pintu tobat selalu terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan dan matahari belum terbit dari barat. Karena itu, siapa pun yang pernah terjerumus dalam perilaku LGBT atau kemaksiatan lainnya, segeralah kembali kepada Allah. Allah Swt. berfirman:
قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًاۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
”Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”_ (QS. az-Zumar [39]: 53).
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Semoga Allah menerima tobat kita, menjaga diri dan keluarga kita dari segala bentuk penyimpangan, serta meneguhkan kita di atas jalan Islam hingga akhir hayat.
Âmîn. []
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا الْإِسْلَامَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.




































