Oleh: Lathief Abdallah.
(Pemerhati Sosial Keagamaan)
Membicarakan LGBT bukan lagi candaan; lepet, gehu, bakwan dan tempe, namun sudah menjadi ancaman peradaban manusia.
REAKSINEWS.COM || LGBT; lesbi, gay, bisek dan transgender bukan lagi penyimpangan personal tapi sudah bentuk komunal yang berorganisasi, menjadi sebuah pergerakan Internasional. Buktinya ketika Qatar sebagian sohibul hajat Pildun 2022 menolak setiap supporter yang berbau LGBT menjadi perbincangan media internasional. Walau Pildun 2026 kali ini di luar bola nampak isu Palestina menjadi sorotan.
Bukan lagi di AS, di Belanda, di Prancis, tapi sudah merambah hingga ke Garut. TV One 2022 memberitakan ada 3000 orang di sana dinyatakan sebagai LGBT. Data Kementerian Kesehatan tahun 2022 mencatat di Jawa Barat diperkirakan mencapai 300.198 orang, dan secara nasional sekitar 1.095.970 orang (0,44% penduduk) masuk kategori LGBT. Itu data 4 tahun lalu!
Baru- baru ini TV One mengabarkan bahwa para aktivis LGBT Se Asean akan mengadakan pertemuan di Jakarta 17-21 Juli 2026. Respon penolakan keras dari MUI dan ormas Islam menggema. Pemerintah pun segera menetapkan bahwa gerakan LGBT termasuk ancaman negara non militer.
Semua agama gak ada yang melegalkan, alias semua agama mengharamkan LGBT. Namun mengapa begitu masif pergerakannya? Karena berkelindan dengan gerakan liberalisasi yang dudukung oleh negara kapitalis liberal, negara-negara yang ‘menuhankan’ kebebasan berekspresi. Dan LGBT bagain dari kebebasan individu. Gak peduli agama, moral yang penting bebas!
Menurut Pew Research Center sudah ada 30 negera yang memberi kebebasan LGBT hingga melegalkan perkawinan sesama jenis. Antara lain negara Amerika, Belanda, Argentina, Jerman, Prancis dan Australia. Tidak aneh di negara mereka jika ada pengantin prianya bernama jonny berkumis, pengantin wanitanya bernama Willy berjenggot.
Bukannya hanya akan memutus generasi manusia, LGBT juga membahayakan secara kesehatan. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan sekitar 70–71% kasus baru HIV terjadi pada laki-laki, dengan kelompok laki-laki yang berhubungan seksual dengan sesama laki-laki (MSM) termasuk yang berisiko paling tinggi. WHO dan CDC (2024) juga menyebut hubungan seksual anal tanpa perlindungan memiliki risiko penularan HIV dan infeksi HPV yang lebih tinggi.
Selain LGBT, ancaman kehidupan manusia muncul gejala baru yang disebut Resesi Sek, Istilah ini merujuk pada menurunnya mood pasangan untuk melakukan hubungan seksual, menikah dan punya anak. Di China, Jepang dan korea selatan gejala ini sudah pada tingkat mengkhawatirkan. Resesi seks muncul karena seks dijadikan komoditas, bebas dan liar. Tidak lagi suci, terhormat, sehat dan dalam lembaga keluarga yang sah. Muncul pada titik puncak kebosanan dalam aktivitas seks, sikap dingin bahkan bisa jadi suatu ketika dianggap sesuatu menjijikan!
Di Jepang sedang trend pasangan keluarga dengan boneka. Boneka seks menjadi pilihan. Mereka gak lagi berpikir generasi yang mengurus dan meneruskan masa depan mereka. Untuk mendorong pertumbuhan penduduk, hingga pemerintah Jepang memberi stimulis setiap melahirkan anak akan mendapat insentif -+ Rp.57 juta!
Bisa disimpulan jika sebuah bangsa itu bisa runtuh tidak mesti melalui adzab seperti kaum Sadom dengan dibalikan bumi mereka dan dituhujani batu, namun membudayanya LGBT dan resesi seks di suatu bangsa akan menjadi penyebabnya!




































