REAKSINEWS.COM || SUKABUMI — Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Assalam Sukaharja, Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, setiap pagi berubah menjadi pusat aktivitas yang nyaris tanpa jeda. Di balik ribuan porsi makanan bergizi yang tersaji tepat waktu, ada puluhan relawan yang bekerja dengan disiplin dan dedikasi tinggi.
Kepala SPPG Sukaharja, Reza Rama Putra, mengungkapkan bahwa penyerapan tenaga relawan di SPPG Assalam dilaksanakan sesuai petunjuk teknis yang telah ditetapkan.
“Alhamdulillah, khusus juru masak di dapur kami sudah mengikuti pelatihan dan mengantongi sertifikat BNSP. Untuk jumlah relawan, total ada 47 orang yang terlibat aktif di SPPG Assalam,” ujarnya, saat ditemui SPPG Sukaharja, Selasa (10/2/2026).
Menurut Reza, relawan tersebut terbagi ke dalam beberapa tim kerja dengan tugas yang sangat spesifik. Tim persiapan menjadi garda awal yang menyiapkan bahan baku.
“Tim persiapan ada 11 orang, dan itu pun masih terasa berat karena hari ini porsi yang kami siapkan mencapai 3.400 porsi. Ke depan, kemungkinan jumlahnya akan ditambah,” jelasnya.
Setelah bahan siap, estafet pekerjaan berlanjut ke tim masak atau pengolahan yang berjumlah 7 orang, terdiri dari 4 perempuan dan 3 laki-laki.
Selanjutnya, makanan yang telah matang ditangani oleh tim pemorsian sebanyak 11 orang, sebuah tahapan krusial yang menuntut ketepatan, kecepatan, dan manajemen waktu yang presisi.
“Beban kerja memang cukup berat, terutama soal waktu. Proses pemorsian harus tepat karena pendistribusian dimulai pukul 07.30 pagi untuk siswa kelas 1–3 SD, lalu dilanjutkan kelas 4–6 beserta para guru,” tutur Reza.
Tak kalah penting, tim kebersihan yang berjumlah 3 orang memastikan dapur tetap higienis. Sementara itu, tim distribusi dan Asisten Lapangan (Aslap) yang berjumlah 1 orang memegang peran vital sebagai pengendali lapangan.
“Aslap ini mengoordinir semuanya, mulai dari kedatangan bahan baku, relawan, hingga mengatasi kekurangan yang ada di lapangan,” tambahnya.
Untuk urusan pasokan, SPPG Assalam mengedepankan suplier lokal. Daging, sayuran, hingga telur seluruhnya dipenuhi dari pemasok sekitar.
“Ini sekaligus menggerakkan ekonomi lokal. Hanya untuk roti, sementara kami masih menggunakan UMKM dari wilayah Cisaat,” jelas Reza.
Di akhir keterangannya, Reza menyampaikan pesan sederhana namun penuh makna kepada seluruh relawan. “Ketika bekerja di lingkungan SPPG, yang pertama harus kita tanamkan adalah rasa syukur. Saat ini mencari pekerjaan tidak mudah. Dari puluhan orang yang mendaftar, yang diterima hanya 47 relawan,” katanya.
Ia menegaskan, jumlah relawan tersebut telah disesuaikan dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional, sehingga efektivitas kerja dan kualitas layanan gizi tetap terjaga.
Jul












































