ISRA MI’RAJ
Ditinjau Dari Beberapa Sisi
Oleh: Lathief Abdalallah.CLQ
A. Misteri Isra’ Dan Mi’raj
REAKSINEWS.COM || Isra adalah diperjalankannya Nabi Muhammad SA di waktu sebahagian malam dari Masjid Haram (Makah) ke Masjid Aqsha (Palestina). Kemudian dilanjutkan dengan mi’raj yaitu dinaikannya nabi SAW ke langit (Sidratul Muntaha) menghadap Allah SWT. Menurut sebagian besar sejarawan Isra Mi’raj terjadi tanggal 27 Rajab Tahun ke-10 kenabian.
Secara sainstis, menurut Prof. Fahmi Amhar (pakar geospasial) dalam tulisannya “Isra’ Mi’raj dalam dimensi sain”, para ilmuwan belum bisa menemukan teorinya, terlebih lagi pada peristiwa Mi’raj. Perjalanan Isra’ saja yang menempuh jarak kurang lebih 1250 km pada masa itu sudah sesuatu yang mustahil ditempuh dalam semalam. Memang saat ini, dengan pesawat supersonik, perjalanan itu dapat ditempuh 15 menit saja. Namun peristiwa mi’raj ke langit tentu tetap misterius.
Andaikata perjalanan pergi-pulang ke langit itu ditempuh dari ba’da Isya (sekitar pukul 20) sampai menjelang Shubuh (sekitar pukul 04), maka jarak bumi – langit adalah 4 jam. Bila Nabi beserta malaikat jibril bergerak dengan kecepatan cahaya ( 300.000 kilometer per detik), maka jarak yang ditempuh baru sekitar 4.320.000.000 Km, atau baru di sekitar Planet Neptunus. Belum keluar tata surya. Bintang terdekat Proxima Alpha Centaury ada pada jarak sekitar 4,2 tahun cahaya. Tidak mungkin dikunjungi pergi-pulang dalam semalam. Apalagi ada kendala Teori Relativitas Khusus. Menurut Einstein, materi yang bergerak mendekati kecepatan cahaya, maka akan mengalami kontraksi ukuran sampai mendekati nol, dan pada saat yang sama massanya mendekati tak terhingga. Apakah Nabi mengalami hal itu?
Misteri ini tentu makin menantang para ilmuwan muslim untuk menjawab dengan berbagai teori fisika yang dikenal saat ini. Teori Einstein sudah terbukti ribuan kali di dunia fisika partikel, dan juga pada satelit yang mengorbit bumi 90 menit sekali sambil membawa jam atom.
Ada juga yang mencoba memahami dengan ayat 70 Surat al-Maarij, “Malaikat-malaikat dan Jibril naik kepada Rabb dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun”, sebagai jarak ke langit adalah 50.000 tahun cahaya. Malaikat mampu melesat dengan laju jauh di atas cahaya (Faster Than Light)”.
B.Termasuk Perkara Sam’iyat
Dalam bahasan aqidah, obyek rukun iman terbagi kedalam tiga; pertama Ilahiyat yaitu pembahasan yang berkait dengan kutuhanan, kedua nabawiyat berkait kenabian, dan ketiga sam’iyat yaitu berkait informasi hal- hal ghaib.
Dari sisi dalil aqidah, ada dalil aqli yaitu fakta yang diimani dapat dibuktikan oleh akal, seperti iman akan wujud Allah, kenabain Muhammad SAW, dan al Quran kalam Allah. Dalil naqli, yaitu fakta yang diimani berdasarkan sumber informasi (sam’iyat) yang diterima secara pasti, yakni perkara-perkara ghaib seperti peristiwa Isra’ Mi’raj, adanya kiamat, alam barzah, surga neraka, dll.
Sebagaimana telah disebutkan bahwa Isra adalah diperjalankannya Nabi Muhammad SAW dalam waktu sebahagian malam dari Masjid Haram (Makah) ke Masjid Aqsha (Palestina). Kemudian dilanjutkan dengan mi’raj yaitu dinaikannya nabi SAW ke langit ke 7 (Sidratul Muntaha) menghadap Allah SAW.
Isra Mi’raj merupakan salah satu mukjizat sebagai bukti kenabian dan kerasulan Muhammad SAW. Dalam Al-Qur’an, peristiwa yang hanya dialami Rasulullah SAW ini disebutkan dalam dua ayat secara terpisah. Tentang Isra dijelaskan oleh Al-Qur’an dalam surat al-Isra, “Mahasuci Dzat yang telah menjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada waktu sebagian dari malam hari dari masjid Al-Haram ke masjid Al-Aqsha yang telah Kami beri berkah sekelilingnya agar Kami dapat menunjukkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami.”(Q.S. Al-Isra (17): 1). Tentang Mi’raj terdapat dalam surat An-Najm. “Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratul Muhtaha.” (Q.S. An-Najm(53): 13-14).
Menurut keterangan hadits, bahwa saat perjalanan menuju Masjid Aqsho nabi menggunakan kendaraan Buraq yang disebut dalam hadits ia memiliki kecepatan langkah kakinya sejauh matanya memandang. Ketika Nabi naik ke langit (Sidratul Muntaha) ia menggunakan Mi’raj. Mi’raj atau jamaknya ma’arij merupakan mish’ad/thariq ilas sama’, jalan menuju langit, yaitu sarana yang digunakan para malaikat hilir mudik siang dan malam antara langit dan bumi saat menerima tugas dari Allah Swt. seperti terdapat dalam surat Al-Ma’arij ayat 4. Dalam kedua perjalanan tersebut nabi dibersamai penghulu para malaikat yaitu malaikat Jibril.
Tidak seorang pun menyaksikan langsung peristiwa malam Isra’ Mi’raj. Termasuk istri nabi sendiri. Secara rasional pun tidak bisa dibuktikan dengan akal atau di luar jangkauan akal. Abu jahal saat itu semakin percaya diri untuk meyakinkan masyarakat bahwa Muhammad tidak layak diikuti, orang munafik menjadi jadi, para mualaf banyak yang murtad.
Hanya saja bagi yang sudah kuat keimanan kepada Allah SWT, Al Quran dan Nabi Muhammad SAW, peristiwa Isra Mi’raj diyakini secara pasti bahwa itu benar-benar terjadi. Hal tersebut seperti pernyataan tegas Abu Bakar Sidiq saat dipinta menyikapainya. Abu Bakar ra berkata, “Apa yang mesti kalian herankan dari peistiwa tersebut? Demi Allah, ia (Rasulullah SAW.) malah telah mengabarkan kepadaku suatu kabar (Wahyu) berasal dari langit (dari Allah Swt.) ke bumi hanya dalam tempo sekejap, baik waktu malam ataupun siang, dan aku membenarkannya. Ketahuilah, kejadian itu jauh lebih mengherankan dari peristiwa yang kalian tanyakan ini!“ (H.R. Hakim).
Perlu dicatat, Nabi bukanlah berjalan dan naik sendiri tapi diperjalankan dan dinaikan oleh Allah SWT, Sang Desain Agung, Maha Pencipta, Maha Pemilik Maha Pengatur, segala sesuatu bergantung kepadaNya. Bagi Allah tidak berlaku hukum-hukum alam; masa, jarak, waktu dsb. Apapun yang dikehendaki Allah pasti terjadi.
“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia” (QS.Yasin:82)
Karena itu peristiwa Isra Mi’raj termasuk bagian sam’iyat, yakni sesuatu yang diimani berdasarkan informasi wahyu (Qur’an dan Hadits).
C. Hikmah Dan Tujuan Isra Mi’raj
Ragam penjelasan berbagai sisi hikmah periatiwa Isra Mi’raj. Ada yang menyingkap dari sisi spiritual (apa yang disaksikan Nabi), ritual (keutamaan shalat). Dalam tulisan ini melihat hikmah dan tujuan dari sisi political; refleksi sejarah dan perubahan paska Isra Mi’raj;
Pertama. Tujuan Politik. Fakta kekuasaan politik Jazirah Arab saat Nabi diutus ada pada dominasi agama Yahudi dan Nasrani. Sistem yang rusak dan kepemimpinan yang zalim menuntut adanya pergantian. Akar kerusakannya diungkap oleh Al-Qur’an. Allah Swt. berfirman, “Maka celakalah orang-orang yang menulis kitab dengan tangan mereka (sendiri) kemudian berkata, Ini dari Alklah, (dengan maksud) untuk menjualnya dengan harga murah.”(QS.Al-Baqarah (2): 79)
Dalam perjalanan Isra, sebelum ke Baitul Maqdis (Masjid Aqsha) nabi mampir ke Yatsrib (Madinah), Madyan, Thursina (Mesir) dan Betlehem (Palestina). Tempat-temoat tersebut menjadi bisyaah (kabar Wahyu) kelak akan menjadi wilayah kekuasaan Islam. Terbukti 2 tahun pasca Isra’ Mi’raj Nabi hijrah ke Yatsrib selanjutnya disebut Madinah, dan beliau SAW menjadi pemimpin di sana yang di kemudian hari jazirah arab ada dalam kekuasaannya.
Kedua. Memperteguh kejiwaan Nabi. Sebelum Isra’ Miraj Nabi mengalami tekanan mental luar biasa dari orang-orang kafir terutama pada saat dua pendukung dan pelindung beliau yaitu paman dan istrinya wafat. Bully, intimidasi dan perskusi kian mengancam. Maka melalui Isra’ Mi’raj Allah memperlihatkan sebagian tanda kekuasaan dan kebesaran-Nya (Q.S. Al-Isra’ (17): 1), (An-Najm (56): 18). Agar kejiwaan dan mental Nabi semakin kokoh.
Ketiga. Seleksi keimanan manusia. Keimanan perlu diuji apakah sebatas pengakuan atau ketundukan. Setelah Nabi SAW menyampaikan peristiwa yang beliau alami, orang kafir makin kencang kekafirannya, orang yang sejak awal imannya tidak serius mulai bergeser kepada kekufuran. “Dan Kami tidak menjadikan rukyah (penglihatan nyata) yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka.” (Q.S. Al-Isra: 60)
Akan tetapi mereka yang imannya totalitas tanpa ada keraguan sedikitpun membenarkan semua yang disampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad SAW. Sikap Abu Bakar mewakili orang-orang yang beriman secara total. Saat beliau ditanya tentang peristiwa Isra’ Mi’raj dimana sebagian orang meragukannya, dia menjawab dengan tegas. “Apa yang mesti kalian herankan dari peistiwa tersebut? Demi Allah, ia (Rasulullah SAW) malah telah mengabarkan kepadaku suatu kabar (Wahyu) berasal dari langit (dari Allah SWT.) ke bumi hanya dalam tempo sekejap, baik waktu malam ataupun siang, dan aku membenarkannya. Ketahuilah, kejadian itu jauh lebih mengherankan dari peristiwa yang kalian tanyakan ini!“ (H.R. Hakim)
Keempat. Misi universal dan kepemimpinan global. Disebutkan dalam hadits bahwa di Baitul Maqdis Masjid Aqsho Nabi mengimami shalat berjamaah yang makmumnya para nabi dan rasul sejak nabi Adam As. Ini menunjukkan pengakuan akan misi syari’at Muhammad SAW, untuk seluruh manusia. Berbeda dengan para utusan sebelumnya yang terbatasi oleh zona bangsa tertentu.
Dimensi politik Isra Mi‘raj tampak jelas ketika Rasulullah SAW memimpin shalat para nabi di Masjid al-Aqsha. Peristiwa ini bukan simbol kosong. Ia adalah isyarat ilahiyah tentang kepemimpinan Islam atas seluruh umat manusia dan seluruh risalah sebelumnya. “Dan Kami tidak mengutusmu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya,” (QS. Saba’ (34): 28).
D. Healing Visual Dan Spiritual
Seperti dijelaskan sebelumya bahwa di antara hikmah dan tujuan Isra’ Mi’raj dalam rangka memperteguh kejiawaan Nabi. Sebelum peristiwa Isra’ Miraj, Nabi mengalami tekanan mental luar biasa dari orang-orang kafir, terutama pada saat dua pendukung dan pelindung beliau yaitu paman beliau, AbuThalib, dan istrinya, Sayidah Khadijah. Keduanya wafat di tahun yang sama, tahun ke 3 Sebelum Hijrah /619 Masehi. Disebut dalam sejarah sebagai ‘amul hazni atau tahun kesedihan. Abu Tahlib, paman Nabi selama ini menjadi melindungi beliau secara politik dan sosial. Sementara Sayidah Khadijah, istrinya selalu membackupnya secara psikologis dan ekonomi.
Setelah keduanya tiada, bulyan, intimidasi dan persekusi kian mengancam. Nabi pernah mencari perlindungan ke suku Thaif, namun yang didapat malah perundungan hingga kekekerasan. Kondisi demikian berat itu terungkap dalam pengaduanya kepada Allah SWT, ” Wahai Allah Tuhanku, kepada-Mu aku mengadukan kelemahan diriku, kekurangan daya upayaku dan kehinaanku dihadapan sesama manusia. Wahai Allah Yang Maha Kasih dari segala kasih, Engkau adalah pelindung orang-orang yang lemah dan teraniaya. Engkau adalah pelindungku. Tuhanku, kepada siapa Engkau serahkan diriku? Apakah kepada orang jauh yang membenciku atau kepada musuh yang menguasai diriku. Tetapi asal Kau tidak murka padaku, aku tidak perduli semua itu. Rahmat dan karunia-Mu lebih luas bagiku, aku berlindung dengan cahaya-Mu yang menerangi segala kegelapan, yang karenanya membawa kebahagiaan bagi dunia dan akhirat, daripada murka-Mu yang akan Kau timpakan kepadaku. Engkaulah yang berhak menegurku sehingga Engkau meridhaiku. tiada daya dan upaya kecuali dari-Mu.” (Muhammad Husen Haikal, Hayatu Muhammad, halaman 187).
Melalui Isra’ Mi’raj Allah hendak menghibur (tashliyah) nabi, healing, baik secara visual maupun secara spiritual. Healing adalah proses yang berupaya untuk meringankan dan memulihkan beban mental dari seorang individu.
Healing secara visual artinya Allah SWT bermaksud memperlihatkan kepada Nabi Muhammad keagungan sebagian ciptaan-Nya di alam semesta. Dimana ada sekitar 200 miliar triliun bintang di alam semesta. Atau, dengan kata lain, 200 seksatriliun. Ada Matahari yang ukurannya 100x dari bumi, namun ada lagi bintang yang besarnya 1700x matahari. Jarak antara bintang ada yang hingga miliaran tahun cahaya. Di angaksa ada galaksi, pelanet berlapis lapis. Nabi daterbangkan hingga melewati tujuh lapis langit!
Hal di atas diungkap langsung dalam al Qur’an, “Agar Kami dapat menunjukkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami.” (Q.S. Al-Isra’: 1) “Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” (Q.S. An-Najm: 18)
Dengan healing visual melalui Isra Mi’raj ini, jiwa Nabi semakin kokoh pendiriannya, kuat keyakinanya bahwa Allah Maha besar, kekuasaan-Nya meliputi segala semesta. Maka Abu Jahal, Abu Lahab dan para pengikutnya yang menentang dan mengancam keras kepada Nabi adalah mahluk yang sangat kecil dan kerdil, hanya butiran debu di banding kebesaran alam semesta.
Healing secara spiritual adalah healing dengan cara mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, memperbanyak ruku dan sujud kepadaNya. Dari itu shalat 5 waktu diperintahkan saat nabi Isra dan Mi’raj, “Lima waktu itu setara dengan lima puluh waktu tak akan lagi berubah keputusan-Ku.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku kembali bertemu dengan Musa. Ia menyarankan, ‘Kembalilah menemui Rabbmu’. Kujawab, ‘Aku malu pada Rabbku’.” (HR Bukhari).
Al Quran menuntun bahwa shalat menjadi terapi atas jiwa yang tergoncang, hati yang gelisah, pikiran yang sumpek. “Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk”. (QS Albaqarah : 45)
Nabi sendiri secara manusiawi mengalami hal hal yang menyesakan dada. Shalat menjadi healing nabi secara spiritual “Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila mengalami sesuatu masalah serius, beliau segera melakukan salat” (HR. Abu Daud, hasan).
Semakin banyak problem maka semakin sering bersimpuh sujud pada Dzat yang sedang mengujinya agar diberi ketabahan dan kemudahan menghadapinya.
Bila healing secara visual melihat keagungan cipataan Allah sehigga akan menambah keyakinan akan eksistensi-Nya. Sementara healing spiritual lebih mendekatkan diri kepada Maha Pencipta, bersimpuh pasrah kepada-Nya. Buah dari keduanya semakin memperkuat keimanan dan semakin terasa dekat kepada-Nya.
_Sumber bacaan:_
1. Tafsir Al Munir, Al Zuahily
2. Isra Miraj Dan Reflesi Dakwah Masa Kini, Abdurahman al Bagdadi
3. Qirâ’ah Siyâsiyyah li as-Sîrah an-Nabawiyyah, Rawwas Qal‘ah Ji,
4. Aqidah ahlus sunah wal jamaah, Ali jum’ah
5. Saadatu Anam Syarah Aqidatu Awam, Murad Abdullah Al Janabi












































