Oleh: Ust. Lathief Abdallah
REAKSINEWS.COM || Ada pernyataan dari kalangan ‘Islam’ liberal bahwa kisah-kisah dalam Al-Qur’an itu tidak ada faktanya, semacam dongeng yang berisi tuntunan moral. Seperti seorang ibu yang bercerita dongeng agar anaknya segera tidur. Buktinya, kisah Kaum Sodom yang dihujani batu hingga semua tewas karena melakukan penyimpangan seksual (homoseksual), hujan batu itu tidak terjadi di negara-negara saat ini yang banyak pelaku homoseksualnya, bahkan dilegalkan oleh negaranya.
Pernyataan di atas sama seperti yang pernah dilontarkan oleh orang-orang kafir 14 abad lalu.
“Orang-orang kafir itu berkata, ‘Ini (Al-Qur’an) tidak lain hanyalah dongengan orang-orang terdahulu.'” (QS. Al-An’am: 25)
Hanya saja, dahulu yang berpendapat seperti itu jelas dari kalangan intelektual kafir. Namun zaman sekarang, yang berpendapat seperti itu mengaku sebagai intelektual Muslim.
Pernyataan tersebut dapat diluruskan dari dua sisi: Pertama. Seorang Muslim meyakini bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah, bukan buatan orang Arab, bukan pula buatan Nabi Muhammad SAW. Sehingga seluruh kandungannya adalah kebenaran mutlak, termasuk kebenaran kisah-kisah di dalamnya.
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 2)
“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surah saja yang semisal Al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (QS. Al-Baqarah: 23)
Kedua. Mengapa siksaan yang menimpa Kaum Sodom, umatnya Nabi Luth AS yang berperilaku homoseksual, dengan dihujani batu panas, tidak terjadi pada manusia sekarang, padahal banyak yang melakukan penyimpangan yang sama, bahkan lebih terorganisir dan dilegalkan oleh beberapa negara?
Benar bahwa umat-umat terdahulu yang menentang nabi-nabi mereka berujung dengan siksaan (azab) yang melenyapkan dan membumihanguskan mereka (azab _isti’shal_). Kaum Tsamud, umatnya Nabi Shalih AS, diazab dengan suara petir yang mematikan. Kaum ‘Ad, umatnya Nabi Hud AS, diazab dengan badai topan dingin selama tujuh malam delapan hari (QS. Al-Haqqah: 4-6). Demikian juga kaum Nabi Nuh AS ditenggelamkan oleh air dari langit dan bumi (QS. Hud: 42-43).
Kaum Sodom, umat Nabi Luth AS, pelaku penyimpangan seksual (homoseksual), diazab dengan hujan batu panas dan negerinya dibalikkan.
“Maka ketika keputusan Kami datang, Kami menjungkirbalikkan negeri kaum Luth itu dan Kami hujani mereka bertubi-tubi dengan batu dari tanah yang terbakar, yang diberi tanda oleh Tuhanmu. Dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang zalim.” (QS. Hud: 82-83)
Siksaan-siksaan yang melenyapkan (azab _isti’shal_) tersebut tidak diturunkan pada umat Nabi Muhammad SAW, karena kedudukan beliau sebagai rahmat.
Allah SWT menegaskan, “Tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)
Syekh Ali Ash-Shabuni menjelaskan makna rahmat dalam ayat di atas: “Maka beliau menjadi rahmat bagi seluruh alam. Bahkan orang-orang kafir pun dirahmati dengan sebab beliau, yaitu dengan ditundanya azab untuk mereka. Allah tidak langsung membinasakan mereka dengan azab seperti pengubahan rupa, ditenggelamkan ke dalam bumi, dan ditenggelamkan ke laut.” (Shafwat At-Tafasir, Ali Ash-Shabuni, Jilid 2: 276)
Di antara kekhususan umat Nabi Muhammad SAW adalah ditiadakannya azab yang melenyapkan (azab _isti’shal_). Oleh karena itu, kejahatan Abu Jahal yang perlakuannya kepada beliau sangat keji, bahkan lebih keji, namun Abu Jahal dan pengikutnya tidak diazab di dunia seperti umat nabi-nabi terdahulu. Abu Jahal tewas saat Perang Badar Kubra di tangan dua pemuda Madinah.
Nabi SAW justru berharap dari para penentangnya lahir generasi yang menjadi pengikut beliau: “Bahkan aku berharap semoga Allah mengeluarkan dari tulang sulbi mereka (keturunan mereka) orang-orang yang akan menyembah Allah semata, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Abu Jahal menentang Nabi, tewas dalam keadaan kafir dan memerangi Nabi. Namun, dari tulang rusuknya lahir Ikrimah yang bersyahadat. Kemudian ia menjadi panglima perang dalam tiga perang besar di masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq RA. Walaupun tidak banyak, beberapa hadits bersanad kepadanya. Ini contoh hadits yang bersanad kepada Ikrimah bin Abu Jahal:
“Dari Ikrimah bin Abi Jahal ia berkata: Ketika aku masuk Islam, aku berkata: Ya Rasulullah, demi Allah, tidak ada satu tempat pun dulu aku berinfak untuk menghalangi dari jalan Allah, kecuali aku akan berinfak dengan jumlah yang sama di jalan Allah (sekarang).” (HR. Imam An-Nasa’i dan Al-Hakim)
Andai azab seperti umat terdahulu itu masih berlaku, tentu tidak akan ada Ikrimah-Ikrimah generasi berikutnya.
Redaksi




































